artikel / gelagat kehidupan di salah satu bulan saturnus

Gelagat Kehidupan di Salah Satu Bulan Saturnus

Gelagat Kehidupan di Salah Satu Bulan Saturnus

Enceladus, salah satu bulan Saturnus, berpotensi menyediakan lingkungan yang sangat memungkinkan mikroba hidup dan berkembang-biak berdasarkan penelitian terhadap data yang pernah diambil oleh wahana Cassini.

Enceladus tertutup lautan yang terus menerus memuntahkan air ke angkasa melalui retakan di kerak esnya. Pesawat ruang angkasa Cassini mengambil contoh komposisi semburan ini pada pertengahan 2000-an dan menemukan molekul yang mencakup karbon dioksida dan amonia. Kedua molekul itu penting untuk kehidupan di Bumi. Dalam studi yang diterbitkan pada 14 Desember 2023 di Nature Astronomy, Enceladus masuk ke daftar kelompok kandidat teratas lokasi kehidupan di luar Bumi di tata-surya.

Penulis utama studi tersebut, Jonah Peter, tertarik dengan temuan Enceladus tentang kekayaan senyawa organik namun belum jelas apa saja yang ada di sana. Peter dan koleganya di Laboratorium Propulsi Jet NASA meneliti ulang data yang dikumpulkan pada 2011 dan 2012 oleh misi Cassini-Huygens dari badan tersebut, yang terbang melalui semburat air Enceladus beberapa kali.

Sampel Cassini, yang dianalisis oleh spektrometer massa pesawat ruang angkasa (instrumen yang mengidentifikasi senyawa berdasarkan berat molekul mereka), awalnya mengungkapkan lima jenis molekul di jet: air, karbon dioksida, metana, amonia, dan hidrogen. Peter dan koleganya menggunakan teknik analisis statistik untuk membandingkan molekul sampel jet dengan miliaran kombinasi senyawa yang pernah dikenal.

Tim tidak saja menemukan lima molekul yang sudah diidentifikasi, bahkan juga beberapa senyawa yang lebih besar dan lebih berat, termasuk hidrokarbon seperti sianida hidrogen dan etana, serta jejak senyawa oksidasi parsial seperti metanol. Senyawa ini tidak muncul dalam analisis Cassini awal karena keterbatasan instrumen di pesawat ruang angkasa itu.

Bersama dengan komponen yang sudah terdeteksi seperti air dan amonia, molekul yang baru ditemukan ini bisa menjadi bahan bangunan dan bahan bakar mikroba, dan berpotensi mendukung asal-usul kehidupan di luar Bumi. Sejak penemuan lautan Enceladus, bulan ini telah menjadi "target utama" dalam pencarian blok bangunan fundamental kehidupan.

Peter sangat bersemangat untuk mendeteksi keberadaan sianida hidrogen, atau HCN, karena merupakan "salah satu bahan bangunan kehidupan yang paling penting dan serbaguna," katanya. Ketika dikombinasikan dengan molekul lain, HCN dapat membantu membentuk nukleobasa dan asam amino, prekursor biokimia yang lebih kompleks seperti protein dan RNA. Simulasi lab telah menunjukkan bahwa transformasi ini mungkin dalam lingkungan yang mirip dengan cangkang es Enceladus, catat Peter. "Banyak molekul penting untuk asal usul kehidupan bisa telah terbentuk di Enceladus dan masih bisa terbentuk di Enceladus hari ini," katanya.

Sampel Cassini kini telah mengungkapkan keberadaan senyawa oksidasi dan reduksi di plume Enceladus. Ini adalah hasil yang "sangat menarik," kata Kate Craft, seorang ilmuwan planet di Laboratorium Fisika Terapan Universitas Johns Hopkins, yang tidak terlibat dalam studi baru. Molekul-molekul ini bisa bercampur bersama, berpotensi melalui aktivitas hidrotermal di dasar laut bulan, dan secara teoritis menciptakan "lingkungan yang layak huni di mana kehidupan dapat didukung atau mungkin berasal," tambah Craft.

Ilmuwan belum memiliki bukti untuk menunjukkan proses seperti itu telah terjadi. Sebenarnya, tidak jelas apakah atau di mana senyawa oksidasi dan reduksi ini mungkin bertemu. Dan Craft menunjukkan bahwa peneliti masih belum tahu persis bagaimana air yang mancur membuat jalan melalui cangkang es.

Namun, temuan tersebut dapat menginformasikan misi berkelanjutan dan direncanakan ke dunia samudra yang mirip dengan Enceladus—termasuk bulan berair Jupiter--Europa, yang kemungkinan memiliki banyak sifat yang sama, kata Craft. Pertanyaan-pertanyaan ini akan lebih jauh dijelajahi oleh pesawat ruang angkasa Jupiter Icy Moons Explorer (Juice) dari Badan Antariksa Eropa, yang saat ini dalam perjalanan ke sistem Jupiter.

Temuan baru ini juga membangun alasan yang kuat untuk mengunjungi kembali Enceladus dalam misi luar angkasa masa depan. Sekarang para peneliti mengetahui keragaman molekul bulan yang menakjubkan ini, mereka bisa menggunakan spektrometer massa yang mampu mempelajari molekul yang lebih besar untuk memeriksa lingkungan kimia yang kompleksnya—dan mungkin mengungkapkan kehidupan sejati di Enceladus.

Selayang pandang proyek Perpustakaan Nirkabel

Perpustakaan Nirkabel (wireless library) is a 12-year-old project bringing digital technology to remote areas in Indonesia, empowering basic education and bridging the gap in education. It enables students in remote areas to access knowledge and resources previously out of reach. Witness the tech enthusiasts' brainchild with a heart for education.

detail