Terpelajar tapi Barbar
Pendidikan dan kecerdasan nalar sangat penting, tetapi tidak menjamin bahwa seseorang akan berperilaku baik.
Shoko Asahara adalah seorang guru yoga yang dianggap sebagai seorang pemimpin spiritual di kalangan pengikutnya, yang terdiri dari banyak anggota yang berpendidikan tinggi dan berpenghasilan tinggi di Jepang.
Kelompok ini melakukan serangkaian kejahatan, termasuk penyerangan dengan bom sarin di kereta bawah tanah Tokyo pada 20 Maret 1995 yang menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 6.000 orang. Selain itu, kelompok ini juga melakukan serangan dengan senjata biologis dan kimia dan berencana untuk meluncurkan serangan nuklir. Shoko Asahara dan beberapa anggota kelompoknya akhirnya dihukum mati oleh pemerintah Jepang atas kejahatan yang mereka lakukan.
Kasus lain yang lebih parah terjadi di Jerman ketika hampir semua orang terpelajar bergabung dengan gerakan Sosialis Nasional pada tahun 1933, termasuk para pengacara, dokter, dan pemimpin industri.
Kebencian dan kejahatan terburuk terhadap kemanusiaan dilakukan oleh negara yang merupakan tanah air banyak orang terpelajar seperti Bach, Beethoven, Brahms, Goethe, Leibniz, dan Kant. Sejarah ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana dan mengapa orang terpelajar melakukan tindakan-tindakan buruk yang tampak tidak masuk akal.
Pada tahun 1939, rezim Jerman menjalankan kebijakannya dengan lebih cerdas. Jelas NAZI memperoleh peningkatan dramatis dalam kemampuan mereka untuk berpikir justru untuk membantai manusia lebih efisien.
Pertanyaan tentang alasan mengapa orang berperilaku buruk dalam sejarah mengarah pada pertanyaan tentang apa yang kita ketahui tentang nalar dan cara kita menggunakannya.