artikel / tradisi matematika suku mee di papua

Tradisi Matematika Suku Mee di Papua

Tradisi Matematika Suku Mee di Papua

Pospisil adalah salah satu orang kulit putih pertama yang kontak dengan masyarakat Kapauku di Papua. Buku ini dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal tradisi di Papua.

Kapauku bisa disebut Ekagi atau lebih populer dengan Mee. Mereka menggunakan bahasa Non-Austronesia yang masih bagian bahasa Trans New Guinea. Suku Mee tinggal di kawasan yang sekarang dikenal sebagai Meepago.

Kendati demikian, sistem bilangan tradisional Mee menunjukkan gelagat kesamaan dengan kawasan Indonesia bagian barat dan asia tenggara dalam payung Austronesia.

Buku ini membahas tentang ekonomi, organisasi sosial dan politik, kehidupan agama dan upacara adat, pandangan dunia, dan akulturasi mereka.

Masyarakat Kapauku digambarkan sebagai sangat individualistik, materialistik, dan sekuler. Hampir semua properti dimiliki secara individual dan semua transaksi sosial memiliki harga. Selain itu, laki-laki Kapauku sangat mengedepankan kekayaan; gengsi dan status mereka yang didasarkan pada akumulasi kekayaan dari budidaya ubi jalar dan penggemukan babi.

Melalui kemurahan hati mereka, para lelaki kaya membentuk kelompok sosial yang tergantung pada mereka dan bertindak sesuai dengan kepentingan mereka.

Menurut Pospisil, budaya Mee berorientasi pada kekayaan yang didukung tradisi matematika yang kental. Mereka bahkan bisa membilang sampai ribuan dalam sistem ini tanpa harus sekolah formal dulu.

Matematika adalah perkakas mutlak untuk menghitung kekayaan mereka.

Sistem penghitungan Mee memiliki kelipatan 10, 20, dan 60. Sistem bilangan ini berbeda dari suku lain, misalnya Suku Dani di Lembah Besar Baliem yang bersiklus dua.

Contoh: 40 = 2 kali 20 50 memiliki konstruksi pengurang "sepuluh tanpa" atau 60 - 10 (enam puluh tanpa sepuluh).

Mereka membedakan 60 sehingga 120 = 60 kali 2 (dua siklus 60). Mereka punya dua istilah untuk 30: "anak sepuluh" (jokagati) atau "setengah" (amonato).

Dalam catatan Pospisil, seorang remaja Mee dengan fasih pernah berkata:

Anda memiliki 6.722 manik-manik di dalam kotak Anda. Jadi Anda telah menghabiskan 623 manik-manik sejak Gubeeni menghitung uang Anda tiga hari yang lalu. Sebaiknya Anda memesan lebih banyak manik-manik dalam waktu sekitar tiga puluh hari sehingga Anda tidak kehabisan uang.

Kemampuan berhitung sedetail itu ditemui oleh Pospisil ketika datang ke Papua pada pertengahan dasawarsa 1950-an.

Selayang pandang proyek Perpustakaan Nirkabel

Perpustakaan Nirkabel (wireless library) is a 12-year-old project bringing digital technology to remote areas in Indonesia, empowering basic education and bridging the gap in education. It enables students in remote areas to access knowledge and resources previously out of reach. Witness the tech enthusiasts' brainchild with a heart for education.

detail