artikel / laporan praktikum statistik perubahan suhu di semarang maret 2023 sampai februari 2024

Laporan Praktikum Statistik Perubahan Suhu di Semarang Maret 2023 sampai Februari 2024

Laporan Praktikum Statistik Perubahan Suhu di Semarang Maret 2023 sampai Februari 2024

Semarang belum mengalami dampak perubahan suhu permanen sepanjang pengukuran Maret 2023 hingga Februari 2024. Naik-turun suhu lokal lebih banyak disebabkan perubahan musiman seperti posisi matahari, hujan, kemarau, El Nino, dll. Berikut ini analisa data sebagaimana diukur oleh BMKG.

Pertama, kita membagi data suhu menjadi dua kelompok: suhu di atas rata-rata (median) dan suhu di bawah rata-rata. Median adalah nilai tengah dari data. Jadi, jika kita menyusun suhu dari yang terendah sampai tertinggi, suhu di tengah-tengahnya adalah median. Dalam kasus ini, median suhunya adalah 28°C.

 Harian Scatter Plot

Hasilnya menunjukkan bahwa suhu terpanas selalu di atas median, artinya hari-hari di Semarang cenderung panas. Suhu terdingin selalu di bawah median, menandakan malam di Semarang cenderung sejuk. Suhu rata-rata, yang merupakan suhu rata-rata setiap hari, kadang-kadang di atas dan kadang-kadang di bawah median.

 Harian Line Chart

Kedua, kita membuat grafik untuk melihat bagaimana suhu berubah tiap hari. Grafik ini menunjukkan suhu terpanas, rata-rata, dan terdingin setiap hari, beserta garis yang menunjukkan suhu median. Dari grafik ini, kita bisa melihat bagaimana suhu berfluktuasi, atau berubah-ubah, sepanjang tahun.

 Time Series

Ketiga, kita membuat model linier untuk melihat garis tren suhu. Ini seperti menggambar garis lurus yang paling pas dengan perubahan suhu sepanjang tahun, membantu kita mengerti kecenderungan suhu naik atau turun.

Pada grafik terlihat garis tren naik. Kendati demikian, masih perlu diperiksa apakah kenaikan itu permanen atau hanya musiman. Pemeriksaan ini akan dilakukan dengan beberapa metode di bawah ini.

Keempat, kita melakukan "Analisis Komponen Waktu" untuk memahami lebih lanjut tentang pola suhu. Dalam analisis ini, kita melihat tiga hal: tren, musiman, dan residu.

 Time Series

Tren menunjukkan apakah suhu naik atau turun dalam jangka panjang. Musiman menunjukkan bagaimana suhu berubah mengikuti musim, seperti lebih panas di musim kemarau dan lebih dingin di musim hujan. Residu adalah perubahan suhu yang tidak bisa dijelaskan oleh tren atau musiman, seperti perubahan suhu tiba-tiba karena hujan lebat.

Kelima, kita melakukan "Uji Statistik" untuk melihat apakah ada tren yang signifikan dalam suhu.

 Time Series

Dengan "Uji Augmented Dickey-Fuller", kita menemukan bahwa suhu di Semarang memiliki pola yang konsisten, tidak terlalu banyak naik turun secara acak.

Uji Kwiatkowski-Phillips-Schmidt-Shin (KPSS) merupakan uji statistik yang digunakan untuk mengecek apakah sebuah seri waktu adalah ajeg terhadap tren atau tidak. Berbeda dengan uji Augmented Dickey-Fuller (ADF) yang menguji adanya akar unit, KPSS menguji hipotesis nol bahwa seri waktu adalah stasioner terhadap tren.

Berdasarkan uji KPSS pada data suhu rata-rata harian di Semarang dari Maret 2023 hingga Februari 2024, kita mendapatkan hasil sebagai berikut:

    KPSS Statistic: 1.2252
    p-value: 0.01
    Critical Values:
        10%: 0.347
        5%: 0.463
        2.5%: 0.574
        1%: 0.739

Nilai statistik KPSS lebih besar dari nilai kritis pada semua tingkat signifikansi yang umum, dan p-value di bawah 0.05, yang berarti kita dapat menolak hipotesis nol bahwa seri waktu adalah stasioner terhadap tren. Ini menunjukkan adanya tren dalam data suhu rata-rata harian di Semarang selama periode tersebut.

Namun, perlu diingat bahwa uji KPSS dan ADF memiliki fokus yang berbeda dalam analisis stasioneritas. Sementara ADF fokus pada pengujian adanya akar unit, KPSS menguji stasioneritas terhadap tren.

Hasil KPSS, yang menunjukkan adanya tren tidak secara otomatis berarti adanya tren kenaikan atau penurunan suhu yang signifikan dalam konteks perubahan iklim; ini hanya menunjukkan bahwa data suhu memiliki struktur tren yang perlu diperhatikan dalam analisis lebih lanjut.

Keenam, "Uji Spektral" membantu kita melihat pola berulang dalam suhu, seperti bagaimana suhu berubah dari waktu ke waktu dalam siklus yang bisa diprediksi.

 Time Series

Dari semua analisis ini, kita belajar bahwa suhu di Semarang memiliki pola yang bisa dipahami dan diprediksi, dengan variasi harian dan musiman. Ini penting untuk membantu kita mempersiapkan cuaca dan mengerti lebih baik tentang iklim di Semarang.

kesimpulan

Berdasarkan analisis data suhu Semarang dari Maret 2023 hingga Februari 2024:

  • Uji Statistik Augmented Dickey-Fuller menunjukkan data suhu rata-rata harian stasioner, artinya tidak ada tren naik atau turun yang signifikan dalam periode tersebut. Ini menandakan bahwa, dalam jangka waktu satu tahun, tidak terdeteksi adanya perubahan mendasar dalam suhu yang bisa dihubungkan langsung dengan tren kenaikan suhu akibat perubahan iklim.

  • Analisis Komponen Waktu mengungkapkan keberadaan komponen musiman yang kuat, tetapi tidak secara eksplisit menunjukkan adanya tren kenaikan suhu dalam periode tersebut. Meskipun ada fluktuasi suhu harian dan musiman, analisis ini lebih menyoroti pola berulang tahunan daripada tren jangka panjang.

  • Model Linier yang dibuat dari data suhu rata-rata harian menunjukkan garis tren untuk periode analisis, tetapi keberadaan garis tren ini tidak secara langsung menunjukkan adanya tren kenaikan suhu global atau pengaruh perubahan iklim dalam periode satu tahun.

Kesimpulannya, dari data dan analisis untuk periode Maret 2023 hingga Februari 2024, belum cukup bukti yang meyakinkan untuk menyimpulkan adanya tren kenaikan suhu yang signifikan di Semarang yang dapat dikaitkan langsung dengan perubahan iklim. Kendati demikian, tetap harus dicamkan bahwa metode KPSS menyangkal kesimpulan itu.

Untuk mengidentifikasi tren perubahan iklim, diperlukan analisis data suhu yang lebih panjang, mencakup beberapa dekade, karena perubahan iklim adalah fenomena jangka panjang yang melibatkan variasi iklim global selama bertahun-tahun hingga berabad-abad. Data satu tahun dapat memberikan gambaran tentang variabilitas suhu lokal dan musiman, tetapi tidak cukup untuk menarik kesimpulan tentang perubahan iklim global.

Selayang pandang proyek Perpustakaan Nirkabel

Perpustakaan Nirkabel (wireless library) is a 12-year-old project bringing digital technology to remote areas in Indonesia, empowering basic education and bridging the gap in education. It enables students in remote areas to access knowledge and resources previously out of reach. Witness the tech enthusiasts' brainchild with a heart for education.

detail