Letusan G. Samala yang Mengubah Dunia
Pada abad ke-11 sampai ke-13 suhu global merosot sehingga terjadi Zaman Es Kecil. Selama ini kita percaya Zaman Es Kecil tersebut disebabkan oleh merosotnya panas Matahari. Franck Lavigne, geografer di Panthéon-Sorbonne University, Paris, membantah keyakinan itu dengan menyeret Sang Terdakwa baru ke NewScientist edisi 19 Oktober 2013. Judul dakwaan dia adalah [Past blast: The lost volcano that set off an ice age] (http://dx.doi.org/10.1073/pnas.1307520110) dan Sang Gunungapi itu adalah G. Samala di Pulau Lombok, Indonesia. Orang Sasak sekarang menyebut Samala sebagai Rinjani.
Lavigne bisa menemukan G. Samala berkat penemuan metode penelitian baru mengenai keasaman pada lapisan glasier kutub awal dekade 1980-an. Waktu itu peneliti Denmark memperkenalkan cara mengukur perubahan keasaman pada inti es pada glasier-glasier purba. Berkat metode ini kita bisa mengukur kadar asam sulfat letusan gunungapi yang gentayangan sampai ke kutub.
Dalam tempo singkat para ilmuwan mengalibrasi pengukuran metode ini ke tahun letusan G. Tambora dan G. Krakatau di glasier Kutub Utara. Tanpa diduga mereka menemukan jejak letusan besar 1258-1259 yang belum tercatat di sejarah. Lantaran kandungan yang setara juga mereka temukan di inti es Kutub Selatan, maka mereka menyimpulkan sumber sulfur besar-besaran ada di kawasan tropis.
Berdasarkan kandungan sulfur yang ditemukan, mereka memperkirakan letusan itu delapan kali sehebat Krakatau atau dua kali separah Tambora. Letusan harus cukup besar sehingga mengakibatkan gagal panen yang menewaskan 15.000-20.000 warga London antara 1257-1260. Dampak letusan juga cukup besar untuk meruntuhkan beberapa kerajaan besar di Asia, termasuk Singasari dan memberi jalan pada kelahiran Majapahit.
Lavigne curiga biangkerok ada di Nusantara, kawasan yang tergolong paling malas mencatat peristiwa-peristiwa alam. Pencarian Lavigne kemudian sampai lah ke G.Rinjani, di Pulau Lombok. G Rinjani adalah nama baru untuk G. Samala dalam bahasa Sasak.
Di sekitar kaldera Rinjani, Lavigne memulung remukan arang yang semua lahir pada 1257. Kajian lebih jauh menemukan bahwa kaldera itu terbentuk melalui letusan hebat yang berlangsung hanya dalam tempo tiga hari. Menyusul temuan lapisan kristal khas letusan di inti es kutub belakangan, Lavigne mengajukan waktu letusan lebih presisi: antara Maret - Oktober 1257.
Letusan itu menyemburkan tiang asap yang menjulang antara 34-54 km. Abu letusan setebal 50 cm menutup seluruh pulau. Sisa-sisa awan panas dan reruntuhan selebihnya mengubur kawasan utara Lombok setinggi 35 meter. Kerajaan Pamatan di Lombok sirna dari muka Bumi.
Letusan itu membabat separuh tinggi gunung dari semula 4.200 m dan mewariskan kaldera berdiameter 6-8,5 km. Sekarang kawasan itu menjadi tujuan wisata idaman dunia karena keindahan danau kaldera.
Menimbang energi letusan yang melampaui Tambora, Lavigne memprediksi ada perubahan iklim global yang datang menyusul. Prediksi ini kemudian dikonfirmasi oleh beberapa peneliti sejarah dan lingkungan.
Antara 1257-1400 suhu global anjlok. Sebelum letusan, antara 900 - 1257, iklim di kawasan Laut Tengah relatif hangat. Produksi anggur (wine) stabil dengan perdagangan yang stabil dan rendahnya kekerasan atau perubahan kekuasaan.
Setelah letusan, musim hujan di Vietnam tercatat paling basah di Asia Tenggara sepanjang 1.000 tahun terakhir. Mongolia membeku sepanjang musim semi 1258 sebagaimana rekaman lingkaran-tahun dalam batang pohon.
Bukan kebetulan bila pada perubahan iklim segera disusul tsunami kemelut sosial-politik-ekonomi global. Kelaparan Besar melanda Eropa pada 1315 kemudian datang menyusul Wabah Sampar sepanjang dasawasa 1340 yang membantai sepertiga penduduk Eropa.
Kekuatan imperium Mongolia, yang merajalela sampai ke Eropa mulai melemah dan akhirnya runtuh. Kerajaan Pagan (Myanmar), Angkor (Kamboja), Dai Viet (Vietnam), dan Singasari (Indonesia) runtuh serta melapangkan jalan kekuasaan bagi imperium Majapahit ke Asia Tenggara.
Apabila benar letusan gunungapi telah berdampak global pada abad ke-11, hal yang sama kiranya akan terjadi di masa depan. Pada satu sisi ada harapan vulkanisme bisa mendinginkan Bumi dengan bayaran kehancuran sosial-ekonomi-politik global sebagaimana dampak letusan G. Samala.