artikel / gempabumi 22 november 1815 di jawa, bali, dan lombok

Gempabumi 22 November 1815 di Jawa, Bali, dan Lombok

Gempabumi 22 November 1815 di Jawa, Bali, dan Lombok

Pada 22 November 1815 sekitar jam sepuluh malam, gempabumi 7.3M menggemparkan Bali, terutama Buleleng. Getaran berlangsung selama satu jam terus-menerus. Gempa menyebabkan tanah longsor dan menewaskan 10.253 orang di Singaraja dan Buleleng.

Tsunami yang datang menyusul, menewaskan lebih dari 1.200 orang. Di Surabaya, gempa dirasakan selama hampir 30 detik pada pukul 11 malam. Tidak jelas apakah tsunami disebabkan oleh longsoran di dasar laut atau letusan gunung di Bali.

Guncangan terasa sampai ke Lombok. Sumber gempa di Sesar Flores yang memanjang lebih jauh ke barat menuju Cekungan Bali.

Kemungkinan aktivitas gempa vulkanik yang diinduksi tidak dapat dikesampingkan. Simulasi menunjukkan bahwa FTZ memiliki potensi gempa yang cukup besar dan perlu dipantau dengan lebih ketat.

Gempa 22 November 1815 dan 29 Desember 1820 di Bali dan Lombok diperkirakan sekuat 5 dan 9 MMI. Ada kemungkinan sumber gempa berasal dari patahan intraslab di palung Jawa atau patahan dorong (strike-slip) yang sejajar dengan sesar naik busur belakang Flores.

Gempa intraslab terjadi ketika dua lempeng tektonik bertemu dan salah satunya terbenam ke bawah, biasanya pada kedalaman 70 hingga 300 km di bawah permukaan. Gempa intraslab biasanya lebih kuat dan dangkal dibanding subduksi di zona subduksi atau megathrust.

Gempabumi paling menggemparkan di Indonesia

Tanggal Kekuatan (M) Lokasi
5 Januari 1699 8.0-9.0 Jawa dan Sumatra
22 Januari 1780 7.0-8.0 Jawa Barat dan Sumatra
22 November 1815 7.3 Jawa, Bali, dan Lombok
29 Desember 1820 8.4 Jawa, Flores, dan Sulawesi
10 Oktober 1834 7.0-7.7 Jawa Barat, Baribis
4 Januari 1840 6.5 Jawa Tengah dan Timur
17 November 1847 7.5-7.6 Jawa Barat dan Tengah
10 Juni 1867 7.7 Jawa dan Bali

Pembaca dapat memeriksa sendiri penelitian ini di sini.

Selayang pandang proyek Perpustakaan Nirkabel

Perpustakaan Nirkabel (wireless library) is a 12-year-old project bringing digital technology to remote areas in Indonesia, empowering basic education and bridging the gap in education. It enables students in remote areas to access knowledge and resources previously out of reach. Witness the tech enthusiasts' brainchild with a heart for education.

detail