artikel / teleologi aristoteles

Teleologi Aristoteles

Teleologi Aristoteles

Rasa ingin tahu kita mengenai berbagai hal muncul dalam beragam wadag, sebagaimana disampaikan oleh Aristoteles di fajar ilmu pengetahuan. Ia merintis upaya untuk memilah-milah rasa ingin tahu manusia ke dalam empat kategori yang belakangan diadopsi oleh jurnalistik sebagai landasan penulisan berita.

Aristoteles mengenali empat pertanyaan mendasar yang pasti kita sodorkan mengenai segala sesuatu. Keempat pertanyaan itu ia namakan aitia, atau musabab (cause).

Pertama, kita selalu ingin tahu tentang pembentuk materi (material cause). Kedua, kita selalu ingin tahu tentang bentuk atau struktur materi (formal cause). Ketiga, kita selalu ingin tahu tentang awal-mula materi (efficient cause). Keempat, kita selalu ingin tahu tentang tujuan (purpose) materi yang dijuluki Aristoteles sebagai telos atau tujuan akhir.

Tradisi literer Anglo-Saxon menamai aitia Aristoteles sebagai what, where, when, dan why.

Selama berabad-abad tiga dari empat aitia bisa dijawab secara memuaskan. Hanya pertanyaan why yang menerbitkan masalah. Semua jawaban atas pertanyaan why selalu menimbulkan why lagi. Mereka menyebut masalah yang ditimbulkan why sebagai teleologi.

Penjelasan teleologis menjelaskan kehadiran sesuatu dengan menjelaskan tujuan atau cita-cita yang hendak dicapai.

Ambil contoh kasus pintu berikut ini.

Mengapa kamu menggergaji kayu? -- Untuk membuat pintu.
Mengapa kamu membuat pintu? -- Untuk melindungi rumah.
Mengapa kamu melindungi rumah? -- Supaya saya bisa tidur lelap.
Mengapa kamu ingin tidur lelap? -- Preeeet!

Ilustrasi imajiner di atas menyingkap masalah pada jawaban telos. Why selalu menimbulkan pertanyaan susulan yang tidak pernah bisa memuaskan penanya.

Untuk menghentikan pertanyaan yang menyusul kemudian, Aristoteles menjawab dengan tujuan pamungkas: Prime Mover atau Tuhan yang Maha Esa.

Gagasan tentang Prime Mover kemudian dipakai oleh agama-agama Samawi, yakni Islam, Kristen, dan Yahudi. Bagi ketiga agama ini, segenap tujuan kita mengarah pada satu titik: Tuhan. Namun aitia Aristoteles tetap saja menimbulkan pertanyaan: Mengapa Tuhan ada?

Para teolog mengakali pertanyaan itu dengan trik menukar pertanyaan why menjadi how (bagaimana). Alih-alih menjawab pertanyaan "mengapa Alam-Semesta ada", mereka mengganti dengan "bagaimana Alam-Semesta muncul." Penjelasan mengenai bagaimana Alam-Semesta dan seisinya muncul diberi nama cosmogonies.

Legenda dan kitab suci agama-agama selalu menekankan proses, alih-alih menjawab, "mengapa" untuk menghindari dan memutus rentetan teleologi Prime Mover. Kosmogeni modern kini dikenal sebagai kosmologi. Penjelasan mengenai Ledakan Besar (Big Bang) atau Lubang Hitam, masuk dalam upaya memutus rangkaian pertanyaan susulan telos.

[Disarikan dari buku Daniel Dennet Darwin's Dangerous Idea: Evolution and The Meaning of the Life (1995), hlm 23 - 25]

Selayang pandang proyek Perpustakaan Nirkabel

Perpustakaan Nirkabel (wireless library) is a 12-year-old project bringing digital technology to remote areas in Indonesia, empowering basic education and bridging the gap in education. It enables students in remote areas to access knowledge and resources previously out of reach. Witness the tech enthusiasts' brainchild with a heart for education.

detail