The Growth Delusion
Dalam buku The Growth Delusion: Wealth, Poverty, and the Well-Being of Nations David Pilling berpendapat bahwa ukuran yang kita gunakan untuk mengukur keberhasilan ekonomi kita—Produk Domestik Bruto, atau PDB memberikan gambaran yang salah dan menyesatkan.
Akibat terlalu asyik menghitung transaksi ekonomi, yang mungkin sebenarnya tidak menguntungkan masyarakat dan tidak memperhitungkan hal-hal seperti kerusakan lingkungan dan modal manusia, kita telah menjadi korban pemahaman picik tentang apa artinya "pertumbuhan ekonomi".
David Pilling ialah editor Afrika untuk Financial Times. Selama percakapan kami, yang telah diedit dan disingkat untuk kejelasan, kami membahas tentang perubahan konsepsi kita tentang apa itu 'ekonomi', negara-negara dengan definisi keberhasilan ekonomi yang lebih maju, dan apa yang Brexit katakan kepada kita tentang bagaimana orang menilai nilai masyarakat mereka.
Pilihan subjektif ekonomi
Kita berbicara tentang pertumbuhan dan kita berbicara tentang ekonomi, dan saya tidak yakin bahwa kita benar-benar berhenti untuk memikirkan apa sebenarnya 'ekonomi' itu. Ketika Anda menggali kembali ke sejarah ini, Anda menemukan bahwa istilah 'ekonomi' dan cara kita memikirkan ekonomi sekarang adalah konsep yang relatif baru. Di Inggris, ekonomi tidak digunakan sebagai manifesto politik sebelum 1950.
Ekonomi benar-benar menjadi hal penting pada dasawarsa 1930-an ketika Simon Kuznets diminta untuk memikirkan bagaimana mengukur, sebagai respons terhadap kecelakaan Wall Street dan Zaman Meleset.
Kuznets berpikir keras. Apa yang harus kita hitung? Apa yang tidak seharusnya kita hitung? Apakah kita menghitung semua produksi atau hanya produksi hal-hal yang kita anggap baik untuk kesejahteraan manusia? Apa itu input produksi, yang terdengar sangat teknis, tetapi pada dasarnya tidak?
PDB mengukur tidak hanya semua yang kita produksi, tetapi juga nilai tambah. Misalnya, Anda tidak menghitung tepung kemudian roti dan gandum karena gandum masuk ke dalam tepung yang masuk ke dalam roti. Anda harus mengurangi setiap tahap.
Kuznets, berpikir kita harus mengurangi biaya transportasi yang membawa orang ke tempat kerja, karena transportasi sebenarnya input ke produksi. Dia juga berpikir bahwa mungkin kita harus mengurangi bank, spekulasi keuangan, karena mereka hanya merupakan metode alokasi modal. Dengan kata lain, bagaimana kita mendefinisikan ekonomi bukanlah hal yang alami. Itu tidak seperti mengukur massa planet.
Sialnya, kita menghitung segalanya. Kita bahkan menghitung polusi. Jika ada yang mencemari lingkungan, polusi dihitung sebagai biaya produksi. RRC tumbuh 10 persen setahun, tetapi kita semua tahu bahwa produk sampingan pertumbuhan itu adalah polusi. Sungai yang sangat beracun, udara beracun yang bisa membunuh orang. Tidak ada dari polusi yang dikurangkan terhadap PDB. Bahkan, lebih daripada itu, mulai membersihkan polusi, RRC memasukkan proses itu ke PDB.
Inggris dan Amerika mulai memikirkan plastik. Semakin banyak plastik yang kita produksi, semakin baik untuk PDB. Plastik itu akan bersama kita selama ribuan tahun. Di Inggris, kita menghasilkan cangkir kertas, yang sebenarnya dilaminasi dengan plastik. Cangkir itu setiap tahun mengelilingi dunia lima setengah kali. Cangkir akan ada di lautan selama beberapa generasi. Namun, kami menghitung cangkir sebagai hal yang positif.
Pilling menyarankan supaya pemerintah mulai menghitung dengan prinsip: Apa yang ingin kita produksi, dan apa yang tidak ingin kita produksi? Apa yang tidak dikatakan PDB kepada kita sama sekali adalah tentang kekayaan kita dan aset yang kita butuhkan untuk menghasilkan pendapatan itu. Bagaimana nasib Arab Saudi setelah minyak habis? PDB tidak memikirkan keniscayaan itu.
Jika menggali angka-angka dan mulai memilah-milahnya, kita menemukan hal-hal yang ditutupi oleh PDB. Di Amerika Serikat, salah satu negara terkaya di dunia ada kantong kemiskinan yang luar biasa. Harapan hidup penduduk di sana telah menurun dalam dua tahun terakhir.
Negara yang telah mengubah cara mencatat PDB
Norwegia
Norwegia adalah negara yang mulai mengubah cara menghitung pertumbuhan ekonomi mereka. Mereka mulai menghitung pohon 100 tahun yang lalu, karena mengekspor semua itu. Pemerintah berpikir, “Tunggu, mereka akan habis, jadi mari kita hitung pohon." Pemerintah atau individu akan menghitung semua hal yang dia pedulikan.
Mereka harus menghitung pohon-pohon mereka dan kemudian menghitung pohon yang lebih sedikit tahun berikutnya dan pohon yang lebih sedikit lagi tahun berikutnya. Mereka memutuskan untuk melakukan sesuatu tentang itu. Mereka masih menghitung pohon-pohon mereka. Bahkan, sekarang Norwegia memiliki hutan yang cukup luas.
Ketika Norwegia menemukan minyak, mereka tidak hanya menghabiskan semua uang minyak seperti Indonesia. Mereka mendirikan dana abadi kekayaan negara terbesar di dunia, yang benar-benar warisan yang mereka tinggalkan untuk generasi mendatang.
RRC
RRC telah merumuskan PDB Hijau. Rumusan baru mencoba mengurangi hal-hal seperti polusi. RRC mencoba mengurangi apa yang dianggap pengeluaran yang tidak berguna. Beberapa hal yang selama ini masuk PDB RRC ibarat gali-lubang-tutup-lubang.
Maryland, AS
Maryland telah mengadopsi hal yang disebut GPI, Indeks Kemajuan Asli.. Mereka tidak meninggalkan PDB dan menggantinya. GPI adalah versi yang lebih canggih dari PDB Hijau RRC. Mereka menyesuaikan untuk berbagai hal.
GPI mengurangi alkohol yang dikonsumsi dalam pesta. Mereka memutuskan alkohol yang diminum secara normal, baik. Alkohol yang dikonsumsi dalam pesta merusak kesehatan, tidak pantas secara sosial, sehingga mereka kurangi dari PDB. Mereka juga mengurangi alarm pencuri, karena termasuk pengeluaran defensif . Mereka mengurangi kerusakan lahan basah dari GPI.