artikel / dari darul islam ke jamaah islamiyah

Dari Darul Islam ke Jamaah Islamiyah

Dari Darul Islam ke Jamaah Islamiyah

"The Roots of Terrorism in Indonesia" karya Solahudin adalah karya pertama yang memaparkan jihadisme, bermula dari DI (Darul Islam) sampai JI (Jemaah Islamiyah). Deskripsi Solahudin kaya dengan detail, terutama terkait Orde Baru Suharto (1966-1998), periode yang sulit untuk menyusun narasi berdasarkan sumber yang handal.

Darul Islam, dari lahir akhir 1940-an sampai pemberontakan bersenjata 1962 sudah banyak diteliti. Laskah Jihad pun sudah cukup banyak dibahas. Tetapi belum jelas apa yang terjadi pada gerakan jihad di Indonesia di antara periode 1962-1998. Solahudin berhasil merajut benang-merah DI dan JI dengan meneliti jihadisme mulai 1970-an sampai awal 1990-an.

Pada periode itu 'alumni' DI menghadapi tekanan dari dua sisi. Pada satu sisi BAKIN dan Divisi Siliwangi mengawasi dengan ketat. Pada sisi lain mereka kalang-kabut dengan masalah internal. Bagaimana menafsirkan ide Kartosuwirjo? Haruskah DI menggunakan kekerasan untuk menciptakan negara Islam, ataukah mereka mengambil cara damai? Apakah mereka harus bekerjasama dengan rezim Suharto atau samasekali menolak berhubungan dengan mereka dan kelompok anti-islam (versi mereka)? Siapa yang lebih layak memimpin DI: mereka yang menyerah pada Republik dan bersumpah setia pada doktrin negara Pancasila yang netral dari sisi agama pada awal 1960-an, ataukah mereka yang tetap bergerak di bawah-tanah dan tidak pernah menyerah? Dalam buku ini tidak hanya adu-argumen, ada juga adu-jotos di antara mereka.

Solahudin juga memaparkan intrik internal di dalam DI pada masa itu. Ada pemimpin DI yang menerima uang dan peluang bisnis dari "patron" militer atau intelijen tetapi masih merencanakan teror. Sebaliknya dari pihak rezim memanfaatkan para jihadis untuk kepentingan politik mereka sendiri.

Kendati ada kemelut internal, DI tetap meneror Indonesia selama 35 tahun dengan jumlah korban minimal 350 jiwa. Bentuk teror periode itu antara lain: 'Teror Warman' (akhir 1970-an), mencoba membunuh Suharto (1982), pemboman gereja, BCA, dan Malang (1984), membom Borobudur (1985), membom gereja (Natal 2000), dan bom Bali 2002.

Ide internal DI semakin meluas sejak awal 1980-an. Mereka mendapat dana dan pelatihan dari kamp di Libya, tergugah Revolusi Iran 1979, dan pelatihan sebagian besar anggota mereka di Afghanistan (1980-an sampai awal 1990-an). Selain memperkaya kemampuan militer, Afghanistan memberi ide pan-islamisme. Pan-islamime memicu perbedaan tajam antara aliran tradisional seperti Ajengan Masduki dengan Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir yang lebih memihak pan-islamisme. Perbedaan itu memuncak pada pada akhir 1992. Sungkar memisahkan diri dari DI dan mendirikan JI.

Selayang pandang proyek Perpustakaan Nirkabel

Perpustakaan Nirkabel (wireless library) is a 12-year-old project bringing digital technology to remote areas in Indonesia, empowering basic education and bridging the gap in education. It enables students in remote areas to access knowledge and resources previously out of reach. Witness the tech enthusiasts' brainchild with a heart for education.

detail