artikel / anak anak indonesia tidak sadar betapa bodoh mereka

Anak anak Indonesia Tidak Sadar Betapa Bodoh Mereka

Anak anak Indonesia Tidak Sadar Betapa Bodoh Mereka

Pada 2013 Elisabeth Pisani, penulis buku Indonesia Etc. menerbitkan blog "Indonesian kids don’t know how stupid they are" (Anak-anak Indonesia Tidak Sadar Betapa Bodoh Mereka).

Artikel itu menyertakan data ujian PISA (Programme for International Student Assessment) 2012 yang menakar kemampuan melek matematika, baca, dan sains anak usia 15 tahun di beberapa puluh negara. Singkat cerita, hasil PISA 2012 menunjukkan anak-anak Indonesia berada di kelompok jurukunci dunia di ketiga bidang sekaligus, tetapi ada di kelompok paling bahagia di sekolah.

Tulisan Pisani mengundang cemooh dan sumpah-serapah dari pihak yang tidak terima, terutama pejabat Indonesia. Indonesia, menurut mereka, tidak bisa dibandingkan dengan Singapura atau Finlandia. Geografi Indonesia yang bervariasi membuat pendidikan di Indonesia tidak seragam mutu. Ada lagi yang menolak dengan mengangsurkan nama-nama jawara olimpiade sains. Semua itu pada intinya menyangkal hasil PISA .

Tiga tahun kemudian PISA 2015 beredar, dan lagi-lagi banyak yang tidak terima. Walau lebih baik daripada pencapaian 2012, anak-anak Indonesia tetap tergolong pandir di antara bangsa-bangsa. Anak Indonesia bahkan lebih bodoh daripada anak-anak Vietnam dan Thailand dalam matematika, sains, dan bahasa sekaligus, dan lagi-lagi masih merasa jauh berbahagia di sekolah.

Menteri Pendidikan Nasional saat itu malah menyalahkan pengambilan sampling yang keliru. Tim PISA menarik data dari kawasan seperti NTT, yang menurut menteri itu, “borok pendidikan Indonesia”.

Contoh soal PISA dapat disimak di sini.

Apa sih yang membuat Pisani gerah dengan dua kali hasil PISA Indonesia?

Menurut Pisani, membandingkan pencapaian rata-rata PISA Indonesia dengan negara papan-atas seperti di Skandinavia tidak ada berguna. Jauh lebih mendesak meletakkan masalah dalam konteks perdagangan bebas ASEAN.

Indonesia memang pasar terbesar di Asia Tenggara, tetapi kapitalisme tidak sudi menggunakan pekerja Indonesia yang pandir. Mereka cenderung membawa sendiri warganegara mereka atau bangsa lain, yang lebih cerdas dan kompeten untuk meraih laba. Indonesia paling banter hanya jadi konsumen atau untuk pabrik berpolusi yang sudah dilarang di negara investor itu sendiri.

Problem berikutnya adalah pembiayaan sebagai negara. Dengan kemampuan serendah itu, pekerja Indonesia dalam satu-dua dasawarsa ke depan lebih banyak di kelas pekerja dengan gaji UMR (Upah Minimum Regional). Dengan pendapatan di bawah PTKP (penghasilan tidak kena pajak), mereka tidak perlu membayar pajak, tetapi menikmati layanan kesehatan dan pendidikan gratis. Bagaimana tidak bahagia dengan kondisi ini?

Pendek kata, semakin senjang mutu pendidikan, semakin berat beban yang harus ditanggung kalangan terdidik yang produktif. Siapa lagi yang harus membayar biaya perbaikan jalan, gaji pegawai, dan selebihnya?

O ya, bagaimana dengan prestasi di olimpiade sains dunia? Mereka adalah crème de la crème (yang terbaik di antara yang terbaik). Populasi anak crème de la crème seperti itu serba-sama di semua negara, semua bidang, semua populasi: 2% hasil PISA, menurut Pisani. Namanya saja luar biasa ya tentu sudah jelas di luar rata-rata.

`Indonesie is een volk van koelies en een koeli onder de volken`
-- Bung Karno

Selayang pandang proyek Perpustakaan Nirkabel

Perpustakaan Nirkabel (wireless library) is a 12-year-old project bringing digital technology to remote areas in Indonesia, empowering basic education and bridging the gap in education. It enables students in remote areas to access knowledge and resources previously out of reach. Witness the tech enthusiasts' brainchild with a heart for education.

detail