artikel / rekapitulasi hasil pisa indonesia 2022

Rekapitulasi Hasil PISA Indonesia 2022

Rekapitulasi Hasil PISA Indonesia 2022

Berikut ini rekapitulasi hasil PISA 2022 yang dilaporkan Desember 2023. Laporan ini hanya merekap survei bidang matematika, membaca, dan sains. Laporan bidang berpikir kreatif dan literasi keuangan akan diterbitkan pada 2024.

Programme for International Student Assessment (PISA) menakar pengetahuan dan keterampilan murid berusia 15 tahun dalam bidang matematika, membaca, dan sains. Tes ini mencari seberapa mahir murid dapat memecahkan masalah kompleks, berpikir kritis, dan berkomunikasi secara efektif.

Hasil PISA memberikan gambaran seberapa baik sistem pendidikan mempersiapkan murid untuk tantangan kehidupan nyata dan kesuksesan di masa depan. Indonesia pertama kali berpartisipasi dalam PISA 2001. Dengan membandingkan hasil secara internasional, pembuat kebijakan dan pendidik di Indonesia dapat belajar dari kebijakan dan praktik negara lain.

Bagaimana kinerja murid berusia 15 tahun di Indonesia dalam tes tersebut?

Topik PISA 2022

Survei PISA 2022 meliputi matematika, membaca dan sains dengan tambahan berpikir kreatif sebagai area penilaian inovatif. PISA 2022 juga mencakup penilaian literasi keuangan kaum muda. Hasil survei matematika, membaca, dan sains dipublikasikan pada 5 Desember 2023 dan hasil untuk berpikir kreatif dan literasi keuangan pada 2024.

Sekitar 690.000 murid mengikuti survei 2022, mewakili sekitar 29 juta murid berusia 15 tahun di 81 negara dan wilayah ekonomi. Peserta PISA Indonesia sebanyak 13.439 murid di 410 sekolah.

Metode Survei

Murid mengikuti dua tes yang berlangsung selama satu jam, masing-masing dikhususkan untuk satu subjek. Setiap murid menerima materi tes yang berbeda dan kombinasi subjek yang berbeda (misalnya, matematika diikuti oleh membaca, atau sains diikuti oleh matematika, dll.). Item tes merupakan campuran dari pertanyaan pilihan ganda dan pertanyaan yang memerlukan murid untuk menulis jawaban mereka sendiri. Murid juga menjawab kuesioner latar belakang, yang memakan waktu sekitar 35 menit.

Kuesioner ini untuk mencari informasi tentang murid itu sendiri, sikap, disposisi, dan keyakinan mereka, rumah mereka, dan pengalaman sekolah dan pembelajaran mereka. Kepala sekolah menyelesaikan kuesioner tentang manajemen sekolah, organisasi, dan lingkungan pembelajaran.

Beberapa negara/wilayah ekonomi juga mendistribusikan kuesioner tambahan, kepada murid, orang tua, dan/atau guru, untuk mendapatkan lebih banyak informasi. Temuan dari kuesioner opsional ini tidak dibahas dalam catatan ini.

Kondisi khusus PISA

Tes PISA 2022 awalnya dijadwalkan 2021 tetapi ditunda satu tahun karena Pandemi COVID-19. Keadaan luar biasa selama periode ini, termasuk karantina wilayah dan penutupan sekolah di banyak negara, menyulitkan pengumpulan data. Sementara mayoritas negara dan ekonomi memenuhi standar teknis PISA, sejumlah kecil tidak.

Negara atau wilayah ekonomi dalam catatan ini dengan tanda bintang (*) di samping namanya berarti bahwa kehati-hatian diperlukan saat menafsirkan perkiraan karena satu atau lebih standar sampel PISA tidak tercapai. Di Indonesia, semua data memenuhi standar kualitas yang ditetapkan oleh PISA dan dianggap layak untuk dilaporkan.

Ringkasan umum

Hasil PISA 2022 murid Indonesia memburuk dibanding 2018 di semua bidang.

Hasil PISA 2022 memburuk bahkan ada yang terburuk, nyaris sejajar 2003 dalam bidang membaca dan matematika, dan 2006 dalam sains. Meskipun hasil beberapa penilaian sebelumnya lebih tinggi, tren penurunan ini terbalik dengan 2015.

Antara 2018 hingga 2022, kesenjangan murid dengan skor tertinggi (10% murid dengan skor tertinggi) dan murid dengan skor terendah (10% murid dengan skor terendah) menyempit dalam matematika, tidak berubah secara signifikan dalam membaca dan sains.

Kesenjangan yang menyempit dalam matematika disebabkan oleh pencapaian murid berprestasi tinggi menurun, bukan karena peningkatan kemampuan murid berprestasi rendah.

Dibandingkan 2012, proporsi murid di bawah level kemampuan dasar (Level 2) memburuk lima poin persentase dalam matematika; lebih buruk 19 poin persentase dalam membaca; dan tidak berubah secara signifikan dalam sains.

Posisi Indonesia

Murid Indonesia mendapatkan skor di bawah rata-rata OECD dalam matematika, membaca, dan sains.

Proporsi murid paling pintar Indonesia (Level 5 atau 6) dalam setidaknya satu subjek di bawah rata-rata seluruh negara OECD. Proporsi murid dengan kemampuan minimal (Level 2 atau lebih tinggi) dalam ketiga subjek juga di bawah rata-rata di seluruh negara OECD.

Matematika

Sebanyak 18% murid Indonesia mencapai setidaknya Level 2 matematika, jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata di seluruh negara OECD (69%). Rata-rata yang dimaksud adalah kemampuan untuk memahami dan mengenali, tanpa bantuan langsung, mengubah kondisi sederhana ke model matematis (misalnya, membandingkan total jarak dua rute alternatif, atau menghitung kurs matauang yang berbeda). Sebanyak 85% murid Singapura, Makau (RRC), Jepang, Hong Kong (RRC), Taiwan, dan Estonia (sesuai peringat dari tertinggi ke rendah) berada di atas batas ini.

Hampir tidak ada murid di Indonesia yang masuk peserta terbaik dalam matematika. Artinya Indonesia gagal total mencapai Level 5 atau 6 dalam tes matematika PISA dari rata-rata OECD (9%).

Enam negara dan kekuatan ekonomi Asia berikut ini yang mencapai standar itu adalah: Singapura (41%), Taiwan (32%), Makau (RRC) (29%), Hong Kong (RRC) (27%), Jepang (23%), dan Korea Selatan (23%). Murid yang lolos level ini berarti dapat meringkus situasi kompleks secara matematis, dan dapat memilih, membandingkan, dan mengevaluasi strategi pemecahan masalah yang sesuai untuk menghadapinya. Hanya 16 dari 81 negara dan kekuatan ekonomi yang mampu menempatkan setidaknya 10% murid di Level 5 atau 6 dalam berpartisipasi dalam PISA 2022.

Membaca

Hanya 25% murid Indonesia yang mampu memahami teks sampai Level 2 atau lebih tinggi, jauh di bawah rata-rata OECD (74%).

Dalam survei ini, murid-murid diuji kemampuan mengidentifikasi ide utama dalam teks dengan panjang sedang, menemukan informasi berdasarkan kriteria yang eksplisit, meskipun terkadang kompleks, dan dapat merefleksikan tujuan dan bentuk teks ketika secara eksplisit diarahkan untuk melakukannya. Proporsi murid berusia 15 tahun yang mencapai level kemampuan minimal dalam membaca (Level 2 atau lebih tinggi) bervariasi dari 89% di Singapura hingga 8% di Kamboja.

Hampir tidak ada murid Indonesia yang mendapat skor Level 5 atau lebih tinggi dalam membaca sementara rata-rata OECD 7%). Murid-murid yang lolos survei ini berarti dapat memahami teks panjang, menangani konsep yang abstrak atau kontra-intuitif, dan menetapkan perbedaan antara fakta dan opini, berdasarkan isyarat implisit yang berkaitan dengan konten atau sumber informasi.

Sains

Hanya 34% murid Indonesia yang mencapai Level 2 atau lebih tinggi dalam sains, di bawah rata-rata OECD (76%).

Setidaknya, murid-murid yang lolos ke level ini dapat mengenali penjelasan yang benar untuk fenomena ilmiah di sekitarnya dan dapat menggunakan pengetahuan tersebut untuk memutuskan apakah kesimpulan valid berdasarkan data yang diberikan bukan berdasarkan perasaan.

Murid Indonesia tidak masuk Level 5 atau 6 (dari rata-rata OECD: 7%). murid-murid ini dapat secara kreatif dan mandiri menerapkan pengetahuan mereka tentang dan dalam sains ke berbagai situasi, termasuk yang tidak ada di sekitar mereka.

Kesenjangan sosial pendidikan Indonesia

Perbedaan sosial-ekonomi

Indeks PISA tentang status ekonomi, sosial, dan budaya dihitung sedemikian rupa sehingga semua murid yang mengikuti tes PISA, terlepas dari negara tempat mereka tinggal, dapat ditempatkan pada skala sosial-ekonomi yang sama. Ini berarti dimungkinkan untuk menggunakan indeks ini untuk membandingkan kinerja murid dengan latar belakang sosial-ekonomi yang serupa di negara yang berbeda.

Di Indonesia, 43% murid (proporsi terbesar) termasuk di antara murid miskin/tertinggal (paling kurang beruntung) yang mengikuti tes PISA pada 2022. Skor rata-rata mereka dalam matematika adalah 354 poin. Di Türkiye dan Vietnam, murid dengan latar belakang sosial-ekonomi setara (miskin/tertinggal) cenderung mencetak skor jauh lebih tinggi.

Indeks PISA tentang status ekonomi, sosial, dan budaya juga dapat digunakan untuk mengurutkan murid dari yang paling kurang beruntung hingga yang paling beruntung di dalam setiap negara dan ekonomi, dan untuk membuat empat kelompok murid dengan ukuran yang sama (masing-masing mencakup 25% populasi murid berusia 15 tahun di setiap negara/ekonomi).

Di Indonesia, murid yang secara sosial-ekonomi beruntung (menengah ke atas, 25% teratas dalam hal status sosial-ekonomi) hanya mencetak skor matematika 34 poin di atas murid miskin/tertinggal, jauh di bawah selisih rata-rata antara kedua kelompok murid kaya/miskin (93) di seluruh negara OECD.

Antara 2012 dan 2022, kesenjangan kemampuan matematika 25% murid terkaya dan termiskin dalam hal status sosial-ekonomi menyempit di Indonesia, sementara kesenjangan rata-rata di seluruh negara OECD tetap stabil.

Status sosial-ekonomi merupakan prediktor kinerja matematika di semua negara dan ekonomi peserta PISA. Survei PISA ini menemukan jurang kaya-miskin hanya berdampak 6%, kontras dengan 15% rata-rata untuk seluruh negara OECD.

Sekitar 15% murid miskin/tertinggal di Indonesia mampu masuk 25% skor teratas kinerja matematika. murid-murid ini dapat dianggap tangguh secara akademik karena, meskipun dengan kekurangan sosial-ekonomi, mereka telah mengatasi keunggulan pendidikan dibandingkan dengan murid di Indonesia sendiri. Skor ini di atas rata-rata di seluruh negara OECD, di mana 10% murid miskin/tertinggal lolos ke 25% terbaik di negaranya sendiri.

Perbedaan gender dalam kinerja

Perempuan mengungguli laki-laki dalam matematika sebanyak 6 poin skor dan 23 poin skor membaca di Indonesia. Secara global, laki-laki mengatasi perempuan di 40 negara dan kekuatan ekonomi, sebaliknya perempuan mengungguli laki-laki di 17 negara atau kekuatan ekonomi lainnya. Untuk 24 negara, tidak ada perbedaan signifikan antar-gender. Dalam membaca, perempuan rata-rata mencetak skor di atas laki-laki di semua kecuali dua negara dan kekuatan ekonomi yang berpartisipasi dalam PISA 2022 (79 dari 81).

Di Indonesia selisih kemampuan matematis antara murid laki-laki dan perempuan hanya 2 poin (83% vs 81%). Selisih yang lebih cemplang terlihat pada kemampuan membaca. Sebanyak 70% perempuan dan 79% laki-laki tidak mampu lolos Level 2 membaca.

Dibanding 2012, kemampuan matematis laki-laki merosot, sementara ajeg untuk perempuan di Indonesia.

Suasana sekolah

Rasa memiliki di sekolah dan kepuasan hidup murid

Pada 2022, 87% murid di Indonesia melaporkan bahwa mereka mudah berteman di sekolah (rata-rata OECD: 76%) dan 86% merasa memiliki di sekolah (rata-rata OECD: 75%). Sementara 16% melaporkan merasa kesepian di sekolah, dan 13% merasa seperti orang luar atau dikeluarkan dari kegiatan di sekolah (rata-rata OECD: 16% dan 17%). Dibandingkan 2018, rasa memiliki murid di sekolah tidak berubah secara signifikan di Indonesia.

Kepuasan murid dengan kehidupan, secara umum, menurun di banyak negara dan ekonomi selama beberapa tahun terakhir. Pada 2022, 14% murid di Indonesia melaporkan mereka tidak puas dengan kehidupan mereka: mereka menilai kepuasan mereka dengan kehidupan antara 0 dan 4 pada skala 0-10. Pada 2018, jumlah murid yang sama tidak puas dengan kehidupan (13%). Rata-rata di seluruh negara OECD, proporsi murid yang tidak puas dengan kehidupan meningkat dari 11% pada 2015 menjadi 16% pada 2018 dan 18% pada 2022.

Dukungan dan disiplin dalam belajar matematika

Di Indonesia, 57% murid melaporkan bahwa, dalam sebagian besar pelajaran matematika, guru menunjukkan minat pada pembelajaran setiap murid (rata-rata OECD: 63%), dan 64% guru memberikan bantuan ekstra ketika murid membutuhkannya (rata-rata OECD: 70%).

Pada 2012, proporsi yang sesuai adalah 62% dan 69%. Hasil matematika pada 2022 menurun lebih sedikit, rata-rata, dalam sistem pendidikan di mana lebih banyak murid melaporkan bahwa guru memberikan bantuan ekstra ketika murid membutuhkannya, dibandingkan dengan sepuluh tahun sebelumnya.

Banyak murid belajar matematika dalam iklim yang tidak mendukung pembelajaran: pada 2022, sekitar 25% murid Indonesia melaporkan tidak dapat bekerja dengan baik dalam sebagian besar atau semua pelajaran (rata-rata OECD: 23%); 24% murid tidak mendengarkan apa yang dikatakan guru (rata-rata OECD: 30%); 25% murid terganggu perangkat digital (rata-rata OECD: 30%); dan 27% terganggu oleh murid lain yang menggunakan perangkat digital (rata-rata OECD: 25%). Rata-rata di seluruh negara OECD, tidak ada laporan murid terganggu perangkat digital ketika ponsel dilarang masuk ke lingkungan sekolah.

Merasa aman di dan sekitar sekolah

Data PISA 2022 menunjukkan bahwa dalam sistem pendidikan di mana kinerja tetap tinggi dan rasa memiliki murid meningkat, murid cenderung merasa lebih aman dan kurang terpapar perundungan dan risiko lain di sekolah mereka.

Di Indonesia, 4% murid mengaku tidak merasa aman dalam perjalanan ke sekolah (rata-rata OECD: 8%); 6% murid tidak merasa aman di kelas (rata-rata OECD: 7%); 17% murid tidak merasa aman di tempat lain di sekolah (misalnya, lorong, kafetaria, WC) (rata-rata OECD: 10%).

Sekitar 25% perempuan dan 30% laki-laki melaporkan menjadi korban tindakan perundungan setidaknya beberapa kali sebulan (rata-rata OECD: 20% perempuan dan 21% laki-laki). Rata-rata di seluruh negara OECD, lebih sedikit murid terpapar pada perundungan pada 2022 dibandingkan dengan 2018: misalnya, hanya 7% murid melaporkan bahwa murid lain menyebarkan rumor buruk tentang mereka pada 2022, dibandingkan dengan 11% pada 2018. Di Indonesia, proporsi yang sesuai menyusut (9% pada 2022 dibandingkan dengan 20% pada 2018).

Keterlibatan orangtua dalam pembelajaran

Data PISA yang dikumpulkan kepala sekolah menunjukkan persentase keterlibatan orangtua di sekolah dan pembelajaran menurun drastis antara 2018 dan 2022 di banyak negara/ekonomi. Anehnya, hal ini tidak terjadi di Indonesia.

Pada 2022, 43% murid di Indonesia berada di sekolah yang kepala sekolahnya melaporkan bahwa selama tahun akademik sebelumnya setidaknya setengah keluarga membahas kemajuan anak mereka dengan seorang guru atas inisiatif mereka sendiri (dan 49% atas inisiatif guru).

Pada 2018, angka yang sesuai adalah 39% (dan 40%). Sistem yang memiliki tren positif dalam keterlibatan orang tua antara 2018 dan 2022 (yaitu sistem di mana proporsi orang tua yang membahas kemajuan anak mereka dengan guru atas inisiatif mereka sendiri menyusut lebih sedikit) cenderung menunjukkan kinerja yang lebih stabil atau meningkat dalam matematika.

Belajar di masa Pandemi COVID

Di Indonesia, 60% murid melaporkan gedung sekolah mereka tutup lebih dari tiga bulan karena COVID-19. Rata-rata di seluruh negara OECD, 51% murid mengalami penutupan sekolah yang sama lama. Dalam sistem pendidikan di mana kinerja tetap tinggi dan rasa memiliki murid meningkat, lebih sedikit murid mengalami penutupan sekolah yang lebih lama.

Selama pembelajaran jarak jauh, 33% murid Indonesia mengalami masalah setidaknya sekali seminggu untuk memahami tugas sekolah. Sebanyak 28% murid menemukan seseorang yang dapat membantu pekerjaan sekolah (rata-rata OECD: 34% dan 24%). Dalam sistem pendidikan di mana kinerja tetap tinggi dan rasa memiliki murid meningkat, lebih sedikit murid mengalami masalah selama pembelajaran jarak jauh.

Dukungan kesejahteraan murid seringkali terbatas ketika sekolah mereka ditutup. Di Indonesia, 25% murid melaporkan bahwa mereka didukung setiap hari melalui kelas virtual langsung di program komunikasi video. Hanya 17% murid melaporkan bahwa mereka ditanya setiap hari, oleh seseorang dari sekolah, bagaimana perasaan mereka (rata-rata OECD: 51% dan 13%).

Jika gedung sekolah harus ditutup lagi di masa depan, banyak murid di seluruh OECD merasa percaya diri untuk menggunakan teknologi digital sebagai alat belajar jarak jauh, tetapi lebih sedikit murid percaya diri tentang mengambil tanggung jawab atas pembelajaran mereka sendiri.

Sekitar 55% murid di Indonesia merasa percaya diri atau sangat percaya diri tentang menggunakan program komunikasi video dan 70% murid merasa percaya diri atau sangat percaya diri tentang memotivasi diri mereka sendiri untuk mengerjakan pekerjaan sekolah (rata-rata OECD: 77% dan 58%).

Infrastruktur pendidikan

Pengeluaran pendidikan terkait dengan kinerja murid hingga batas tertentu. Semakin tinggi belanja pendidikan, semakin tinggi skor yang diperoleh. Di Indonesia, pengeluaran total pendidikan SD-SMP per murid selama sepuluh tahun usia antara 6 dan 15, setara dengan sekitar USD 19.700.

Di sekitar setengah dari semua negara/ekonomi dengan data yang dapat dibandingkan, kepala sekolah pada 2022 lebih mungkin daripada rekan-rekan mereka pada 2018 untuk melaporkan kekurangan staf pengajar.

Pada 2022, 18% murid di Indonesia berada di sekolah yang kepala sekolahnya melaporkan bahwa kapasitas sekolah untuk menyediakan instruksi terhambat oleh kurangnya staf pengajar (dan 13%, oleh staf pengajar yang tidak memadai atau kurang berkualitas). Pada 2018, proporsi yang sesuai adalah 42% dan 25%.

Di sebagian besar negara/ekonomi, murid yang menghadiri sekolah yang kepala sekolahnya melaporkan kekurangan staf pengajar mencetak skor lebih rendah dalam matematika daripada murid di sekolah yang kepala sekolahnya melaporkan lebih sedikit atau tidak ada kekurangan staf pengajar.

Bagaimana murid menempuh pendidikan

Murid mengikuti tes PISA pada 2022, 51% murid berusia 15 tahun dan terdaftar di kelas 10.

Di Indonesia, 85% melaporkan bahwa mereka telah mengikuti pendidikan pra-sekolah selama satu tahun atau lebih (rata-rata OECD: 94%). Rata-rata di seluruh negara OECD, murid yang telah mengikuti pendidikan pra-sekolah selama satu tahun atau lebih mencetak skor lebih tinggi dalam matematika pada usia 15 tahun daripada murid yang tidak pernah mengikuti atau yang mengikuti kurang dari satu tahun, bahkan setelah memperhitungkan faktor sosial-ekonomi.

Sekitar 12% murid di Indonesia melaporkan bahwa mereka pernah tidak naik kelas setidaknya sekali (rata-rata OECD: 9%) setelah memasuki sekolah dasar. Gagal naik kelas cenderung minim pada sistem pendidikan yang bagus.

Otonomi sekolah

Di Indonesia, 56% murid menghadiri sekolah di mana kepala sekolah memiliki tanggung jawab utama untuk merekrut guru (rata-rata OECD: 60%), dan 70% terdaftar di sekolah di mana guru memiliki tanggung jawab utama untuk memilih materi pembelajaran yang digunakan (rata-rata OECD: 76%). Banyak sistem sekolah berkinerja tinggi cenderung memberikan tanggung jawab ini kepada kepala sekolah dan guru.

OECD

OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development (Organisasi untuk Kerjasama dan Pembangunan Ekonomi), adalah organisasi internasional yang terdiri dari 38 negara anggota, yang bertujuan untuk mempromosikan kebijakan-kebijakan yang akan memperbaiki kesejahteraan ekonomi dan sosial di seluruh dunia.

OECD fokus pada pembahasan, pengembangan, dan analisis kebijakan ekonomi, sosial, dan lingkungan. Organisasi ini bekerja melalui koordinasi kebijakan, dialog, dan pertukaran informasi di antara negara-negara anggotanya dan negara lain yang ingin bekerja sama dengan mereka.

OECD didirikan pada 1961 sebagai penerus Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi Eropa (OEEC), yang awalnya dibentuk untuk mengelola Program Pemulihan Eropa (Marshall Plan) untuk rekonstruksi Eropa setelah Perang Dunia II. Kegiatan utama OECD meliputi analisis ekonomi, pengumpulan data, publikasi laporan, dan rekomendasi kebijakan dalam berbagai isu seperti pajak, kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan.

Organisasi ini berusaha untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, meningkatkan tingkat kesempatan kerja, dan meningkatkan kualitas hidup di negara-negara anggotanya, sambil menjaga stabilitas keuangan dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dunia. OECD juga memainkan peran penting dalam membantu negara-negara berkembang dan transisi menuju ekonomi pasar dan demokrasi yang lebih efektif.

Versi asli laporan resmi.

Selayang pandang proyek Perpustakaan Nirkabel

Perpustakaan Nirkabel (wireless library) is a 12-year-old project bringing digital technology to remote areas in Indonesia, empowering basic education and bridging the gap in education. It enables students in remote areas to access knowledge and resources previously out of reach. Witness the tech enthusiasts' brainchild with a heart for education.

detail