Bagaimana Teknologi Meretas Kegirangan Hidup
Molly Russell, seorang remaja Inggris berusia 14 tahun, bunuh diri pada tahun 2017 setelah ditemukan bahwa ia telah mengunjungi situs-situs yang membahas topik-topik seperti depresi, bunuh diri, dan automutilasi secara teratur. Keluarganya menyalahkan media sosial dan algoritma yang mengekspos putri mereka pada konten yang merugikan.
Sebuah studi tahun 2020 yang diterbitkan di Journal of Medical Internet Research menemukan bahwa lebih dari separuh responden melaporkan merasa lebih sedih atau depresi setelah membaca berita tentang pandemi Covid-19 di media sosial.
Teknologi menjadi bagian penting kehidupan kita sehari-hari. Namun, apakah kita masih merasa memiliki kendali atas hidup kita ataukah kita telah menjadi budak perangkat-perangkat yang kita miliki?
Menurut mantan eksekutif teknologi, Vivek Wadhwa dan Alex Salkever, teknologi digital telah membuat kita tidak bahagia dan kehilangan kendali atas hidup kita. Kita telah menjadi kecanduan teknologi dan merasa cemas saat terpisah dari perangkat kita. Bahkan dalam sebuah studi, sekelompok siswa lebih memilih merasakan rasa sakit daripada terpisah dari ponsel mereka.
Hal ini disebabkan oleh teknik neurosains terapan yang digunakan oleh pengembang untuk membuat produk mereka menjadi kecanduan dan sulit untuk dilepaskan. Namun, hal ini tidak sepenuhnya kesalahan kita. Pengembang sengaja merancang produk mereka untuk membuat kita terus terikat.
Oleh karena itu, kita harus menyadari dampak negatif teknologi pada kehidupan kita dan berusaha secara sadar untuk membatasi penggunaan kita. Kita harus mengambil kembali kendali atas kebahagiaan kita dari bot.
Sudah saatnya kita melawan kekuatan besar yang mencoba mengendalikan otak kita dan memperoleh kebahagiaan yang sejati. Kita harus belajar untuk menikmati manfaat teknologi sambil tetap mengendalikan penggunaannya agar tidak merugikan kita.