Biar Mahal Asal Selamat
Mendapat untung sedikit dari teman jauh lebih baik daripada untung besar dari musuh. Itulah tren anti-globalisasi sejak awal dekade 2020-an.
Pada 17 Januari 2019 World Economic Forum menulis artikel "A brief history of globalization" (Selayang Pandang Globalisasi). Mereka berpendapat dunia mengarah pada gelombang ke-4 globalisasi yang berpusat pada RRC. Artikel itu diragukan karena justru tren hari ini adalah globalisasi yang melambat (slowbalization) atau senjakala globalisasi ke-4.
Gelombang pertama globalisasi terjadi pada revolusi industri akhir abad ke-19 akibat perkembangan transportasi dan komunikasi dan berhenti pada Zaman Meleset dan Perang Dunia I.
Gelombang kedua terjadi pada masa Perang Dingin. Gelombang ketiga terjadi setelah Tembok Berlin runtuh (1989) sampai krisis moneter global 2010. Gelombang keempat terjadi akibat ekonomi digital dan kecerdasan buatan (artificial intellligence) dengan kendali pada RRC.
Akan tetapi setidaknya ada lima data yang menyiratkan gelombang keempat melambat.
-
Nilai ekspor barang dan jasa global merosot dari 28% (2018) menjadi 26% ketika pandemi meledak (2020).
-
Arus investasi langsung asing (Foreign Direct Investment) turun dari US$2 triliun (2016) menjadi US$1,48 triliun (2019). Ketika pandemi meledak, FDI turun lagi menjadi US$963 miliar. Pada 2021 FDI global naik menjadi US$1,58 miliar tetapi masih di bawah 2016.
-
Rasio FDI terhadap PDB global pernah naik dari 1% pada 1989 menjadi 5,3% pada 2007. Selanjutnya menurun ke 3,5% (2016) kemudian terjun menjadi 1,7% (2019) dan 1,4% akibat pagebluk.
-
Pada 2008 terdapat 82.000 perusahaan yang berinvestasi di luar negara asal (multinasional). Pada 2017 tinggal 60.000 perusahaan menurut UN Conference on Trade and Development (UNCTAD) .
-
Menurut Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) arus modal swasta yang dilaporkan pada 2014 US$414 miliar kemudian turun terus menjadi US$229 miliar (2019), dan arus keluar negatif US$8 miliar pada 2020.
Boleh jadi hari ini dunia sedang bersiap memasuki bentuk globalisasi yang berbeda. Salah satu ciri yang bakal terjadi adalah memilih mitra dagang regional atau yang tidak bermusuhan dari sisi politik, menurut Joseph Stiglitz penerima Nobel Ekonomi 2001. Sepertinya sekadar murah bukan lagi segalanya pada Globalisasi 5.0. Latarbelakang ini jelas terlihat pada panjang perusahaan yang hengkang dari RRC pada awal dasawarsa 2020-an ke kawasan yang lebih bersahabat.
- Apple memindahkan sebagian produksi iPhone dan iPad dari RRC ke India dan Vietnam.
- Nike memindahkan sebagian besar produksinya dari RRC ke Vietnam dan Indonesia.
- Samsung telah memindahkan sebagian produksinya dari RRC ke Indonesia. Pada 2020 Samsung memindahkan beberapa fasilitas produksinya ke Batam, Indonesia.
- Hasbro, perusahaan mainan dan hiburan Amerika Serikat ini memindahkan sebagian besar produksinya dari RRC ke India dan Vietnam.
- GoPro memindahkan sebagian produksinya dari RRC ke Meksiko dan Romania.
- Pegatron, kontraktor manufaktur elektronik Taiwan, sedang memindahkan sebagian produksinya dari RRC ke Indonesia. Pada akhir 2020, Pegatron mengumumkan rencananya untuk membangun pabrik baru di Batam, Indonesia dengan investasi sekitar US$1 miliar.
- Luxshare Precision Industry, manufaktur elektronik RRC Luxshare mengajukan permohonan untuk membangun pabrik baru di Batam, Indonesia dengan investasi sekitar US$500 juta.
- Panasonic telah memiliki sejumlah pabrik di Indonesia dan sedang mempertimbangkan untuk memperluas produksi di negara ini. Pada 2020, Panasonic mengumumkan rencananya untuk membangun pabrik baru di Batam, Indonesia untuk memproduksi komponen mobil dan peralatan listrik.