artikel / bagan dampak bencana iklim

Bagan Dampak Bencana Iklim

Bagan Dampak Bencana Iklim

Rentetan peristiwa yang menyusul bencana-alam biasanya tidak dibahas seheboh bencana itu sendiri. Publik menganggap peristiwa seperti jalan rusak, gatal-gatal, asma, harga semen, sampai gagal bayar hutang setelah bencana alam, sebagai peristiwa yang lumrah. Tetapi ketika bencana-alam sebagai akibat langsung perubahan iklim terjadi dan dipastikan semakin sering, anggapan itu semestinya diubah.

Satu laporan berjudul Atlas of Disaster menghubungkan titik-titik antara efek awal bahaya iklim dan dampak jangka panjang yang membuntuti. Dalam laporan itu, penulis menegaskan hubungan dan efek berantai yang harus dipikul masyarakat pasca-bencana iklim.

Bagan ini menggambarkan bagaimana bahaya iklim dapat menyebabkan serangkaian peristiwa yang berdampak pada kesehatan dan kesejahteraan manusia serta lingkungan, dengan konsekuensi yang bertahan jauh setelah peristiwa awal telah berlalu. Bencana dibagi menjadi dua. Bencana langsung (primer) dan bencana susulan (sekunder). Selanjutnya menyusul dampak jangka-pendek (langsung) dan jangka-panjang (susulan).

Bencana Iklim

Primer (utama)

Bencana iklim adalah peristiwa awal yang biasanya dibahas ramai-ramai. Bencana yang disebutkan adalah yang sebagian besar dan kemungkinan sangat besar hanya terjadi akibat perubahan iklim. Masing-masing bahaya menurunkan bahaya susulan jangka pendek dan jangka panjang.

Bencana iklim utama yang diidentifikasi adalah:

  • Gelombang Panas Berkepanjangan
  • Kekeringan Kronis
  • Kebakaran Luas
  • Topan
  • Banjir Bandang
  • Hujan Lebat
  • Banjir

Sekunder (susulan)

Bencana iklim sekunder adalah peristiwa yang dipicu atau diperburuk oleh bencana iklim primer, sering kali melalui kerusakan prasarana umum dan dampak bahaya lingkungan yang dihasilkan oleh peristiwa pertama itu.

  • Ozon Tingkat Rendah "Ground-level ozone" atau Ozon Tingkat Rendah adalah ozon yang terdapat di atmosfer bumi dekat permukaan tanah. Berbeda dengan ozon yang berada di lapisan stratosfer, yang melindungi bumi dari sinar ultra-violet, Ozon Tingkat Rendah adalah komponen utama dari asbut dan merupakan polutan udara yang berbahaya.

Ozon Tingkat Rendah terbentuk ketika gas-buang kendaraan bermotor, pabrik, pembakaran biomassa, dan reaksi kimia lainnya terpapar langsung sinar matahari. Gas yang masuk kategori ini adalah oksida nitrogen (NOx) dan senyawa organik mudah menguap (VOCs). Ketika terpapar dengan sinar matahari, gas-gas ini bereaksi dan membentuk Ozon Tingkat Rendah.

Ozon Tingkat Rendah berdampak negatif terhadap kesehatan manusia, beberapa diantaranya menyebabkan atau memperburuk masalah pernapasan, iritasi mata, dan mengurangi fungsi paru-paru. Ozon Tingkat Rendah berdampak buruk terhadap lingkungan, merusak tanaman, mengurangi hasil panen, dan merusak ekosistem.

  • Polusi Udara (PM dan PM2.5) "PM2.5" mengacu pada partikel dengan diameter 2.5 mikrometer atau lebih kecil. Partikel ini sangat halus sehingga bisa menembus masuk ke dalam saluran pernapasan dan bahkan dapat mencapai alveoli, bagian terdalam dari paru-paru.

Sumber PM2.5 meliputi berbagai aktivitas manusia seperti pembakaran bahan bakar fosil (misalnya di pembangkit listrik dan kendaraan bermotor), proses industri, pembakaran kayu, dan aktivitas pertanian. PM2.5 juga bisa berasal dari proses alami, seperti kebakaran hutan dan aktivitas vulkanik.

Paparan terhadap PM2.5 dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, terutama bagi sistem pernapasan dan kardiovaskular. Efek jangka pendek meliputi iritasi mata, hidung, tenggorokan, dan paru-paru, serta memperburuk kondisi kesehatan seperti asma dan penyakit jantung. Paparan jangka panjang bisa meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, gangguan pernapasan kronis, bahkan kanker paru-paru.

  • Evakuasi
  • Kerusakan Prasarana dan Sarana
  • Paparan Terhadap Api
  • Kontaminasi Air Minum
  • Paparan Terhadap Air Banjir
  • Pemadaman Listrik
  • Tinggal di Rumah dengan Gangguan Infrastruktur
  • Kerusakan Tempat Tinggal
  • Tinggal dalam Kondisi Kekurangan
  • Meluapnya Limbah
  • Pelepasan Zat Berbahaya
  • Paparan Bahan Kimia (misalnya, arsenik)
  • Penyakit Mikroba
  • Pembersihan dan Rekonstruksi

Dampak

Langsung

Peristiwa di bawah ini adalah konsekuensi langsung bencana iklim dan dapat berlanjut selama beberapa hari atau minggu setelah peristiwa terjadi. Dampak peristiwa melibatkan merasuk ke bidang kesehatan, lingkungan, sosial dan bervariasi tergantung pada sifat dan keparahan bahaya iklim.

  • Dehidrasi
  • Gegar Panas (Heat Stroke)
  • Kenaikan Harga Makanan dan Barang
  • Kekurangan Pasokan Air Bersih
  • Penyakit Terkait Debu di Udara
  • Relokasi
  • Kematian atau Cedera
  • Stres Terkait Badai
  • Penyakit Gastrointestinal
  • Infeksi Pernapasan
  • Infeksi Kulit/Luka
  • Pengeluaran Penyakit Kronis
  • Penyakit Terkait Dingin/Panas
  • Peningkatan Kebutuhan Layanan Medis Darurat
  • Alergi dan Kondisi Pernapasan
  • Penyebaran Penyakit Menular di Tempat Pengungsian
  • Luka Bakar
  • Paparan Bahan Kimia
  • Penyakit Mikroba

Susulan

Efek jangka panjang bencana iklim tidak terlihat sejelas peristiwa awal. Sering kali terkait dengan masalah sosial yang kompleks atau efek kesehatan yang beragam, efek ini dapat bertahan selama bertahun-tahun setelah bencana. Ini termasuk:

  • Infeksi Kulit
  • Kematian atau Cedera
  • Akses ke Perawatan Medis Putus
  • Dampak pada Kesehatan Mental
  • Kurang gizi

"Perubahan iklim sudah datang, dan bangsa kita sedang menderita," kata Amy Chester, salah seorang penulis laporan Atlas of Disaster dan direktur pelaksana Rebuild by Design, organisasi nirlaba yang didirikan setelah kehancuran Badai Sandy pada 2012. Dia berharap penelitian itu akan mengalihkan wacana, dari apa yang harus dilakukan jika bencana iklim terjadi menjadi apa yang dapat kita lakukan sekarang karena mereka sedang terjadi."

Selayang pandang proyek Perpustakaan Nirkabel

Perpustakaan Nirkabel (wireless library) is a 12-year-old project bringing digital technology to remote areas in Indonesia, empowering basic education and bridging the gap in education. It enables students in remote areas to access knowledge and resources previously out of reach. Witness the tech enthusiasts' brainchild with a heart for education.

detail