Gempabumi 10 Oktober 1834 di Baribis Jawa Barat
Pada malam 10 Oktober 1834 terjadi serangkaian guncangan kecil yang diikuti oleh guncangan besar dini hari di Batavia (Jakarta), Banten, Karawang, Bogor, dan Priangan. Guncangan ini terasa sampai ke daerah Tagal (Tegal) di timur hingga Lampung di barat. Menurut Musson (2012), kemungkinan besarnya guncangan adalah MW 7,0. Banyak kerusakan yang terjadi di beberapa kabupaten.
Setelah gempa bumi terjadi di Karesidenan Batavia (Jakarta), banyak rumah dan bangunan batu termasuk istana di Weltevreden (Paleis van Daendels/Het Groot Huis, Istana Gubernur Jenderal, yang sekarang menjadi Gedung Kementerian Keuangan) rusak.
Selain itu, beberapa gudang pedesaan dan townhouse juga rusak. Di Cilangkap, rumah batu rusak parah. Meskipun demikian, tidak ada laporan korban luka. Di Bogor hampir semua bangunan batu rusak parah dan sebagian runtuh.
Sisi utara Istana Buitenzorg mengalami rusak parah. Rumah batu besar di Citeureup)juga runtuh. Selain itu, pos-pos di Cihanjawar (kaki Gunung Burangrang) benar-benar terkubur di bawah tanah dan menewaskan 5 orang dan 10 kuda. Puing-puing juga menyumbat sungai Cihanjawar dan menimbulkan genangan hebat.
Rumah batu juga rusak di Kedung Halang, Tjitrap, Cimanggis, dan Pondok Cina. Goncangan yang lebih kecil dirasakan di Cilebut dan Kuripan di Kabupaten Bogor, serta di Pondok Terong, Sawangan, dan Cinere di Depok.
Di Karesidenan Parahyangan (Preanger), banyak bangunan di Cianjur, ibu kota, mengalami kerusakan parah. Rumah Bupati sebagian runtuh dan penjara tercabik-cabik. Retakan tanah juga ditemukan di lereng belakang Gunung Gede dan di jalan antara Bogot dan Cianjur. Di dekat gunung, banyak rumah kayu dan bambu yang terbalik.
Terakhir, di KaresidenanKarawang, rumah batu di Pondok Gede, Kranggan, Kota Bekasi) mengalami kerusakan parah.
Gempa bumi yang terjadi mempengaruhi Jakarta, Bogor, dan Cianjur dengan intensitas MMI 8. Tidak ada kerusakan yang dilaporkan di Lampung dan intensitas yang lebih rendah dirasakan di Banten. Pusat gempa ini kemungkinan dekat dengan gempa pada 1699 dengan besaran yang lebih kecil.
Tiga skenario dipikirkan untuk peristiwa gempa ini: Skenario A (Baribis thrust), Skenario B (patahan kerak), dan Skenario C (intraslab). Hasil dari Skenario A dengan magnitudo 7.0 pada dorong Baribis cocok dengan MMI yang diamati dari gempa 1834, khususnya untuk daerah yang paling terpengaruh seperti Batavia, Buitenzorg, Tjanjor, dan Tjiandjawar. Bangunan terkenal seperti istana dan rumah Bupati sebagian runtuh dan tanah longsor besar terjadi akibat gemetar yang kuat.
Kerusakan tersebut membutuhkan intensitas minimum MMI 8. Skenario A menyimpulkan bahwa dorongan Baribis dengan MW 7.0 menyebabkan intensitas antara 8 dan 9 di daerah terdampak, termasuk Batavia, Buitenzorg, Tjanjor dan Tjiandjawar. Namun, simulasi ini menghasilkan intensitas yang lebih tinggi di beberapa area seperti Banten, Krawang, dan Tegal, di mana tidak ada laporan kerusakan yang signifikan. Skenario B mengubah arti gerakan menjadi sesar mendatar dan memberikan hasil serupa untuk Batavia, Buitenzorg, dan Tjianjor.
Dalam simulasi tiga skenario untuk gempa, intensitas guncangan yang dihasilkan berkisar antara MMI 5 hingga 9. Skenario A memberikan hasil yang baik untuk daerah Batavia, Buitenzorg, Tjanjor, dan Tjiandjawar dengan intensitas MMI 8.
Skenario B memberikan hasil yang baik untuk Batavia, Buitenzorg, dan Tjianjor dengan intensitas MMI 8, sedangkan Tegal memiliki intensitas MMI 5. Skenario C menghasilkan intensitas MMI 7-8 di pantai utara Jawa Barat. Intensitas di beberapa daerah berbeda dengan prediksi karena adanya faktor sejarah dan amplifikasi situs. RMSE untuk ketiga skenario adalah 1,8, 1,9, 1,7.
Teks tersebut membahas tiga skenario simulasi gempa yang menghasilkan intensitas yang serupa dengan data historis. Meskipun demikian, Skenario A lebih cocok dengan daerah yang mengalami kerusakan lebih sedikit seperti Banten dan Krawang.
Selain itu, skenario tersebut juga menghasilkan guncangan tanah yang terkonsentrasi di sekitar Jakarta, Bogor, dan Cianjur. Spasial distribusi guncangan tanah untuk skenario ini paling cocok dengan data yang diamati karena intensitas yang dimodelkan tidak dapat cocok dengan lokalitas. Namun, intensitas di lokasi individu mungkin cocok.
Gempabumi paling menggemparkan di Indonesia
| Tanggal | Kekuatan (M) | Lokasi |
|---|---|---|
| 5 Januari 1699 | 8.0-9.0 | Jawa dan Sumatra |
| 22 Januari 1780 | 7.0-8.0 | Jawa Barat dan Sumatra |
| 22 November 1815 | 7.3 | Jawa, Bali, dan Lombok |
| 29 Desember 1820 | 8.4 | Jawa, Flores, dan Sulawesi |
| 10 Oktober 1834 | 7.0-7.7 | Jawa Barat, Baribis |
| 4 Januari 1840 | 6.5 | Jawa Tengah dan Timur |
| 17 November 1847 | 7.5-7.6 | Jawa Barat dan Tengah |
| 10 Juni 1867 | 7.7 | Jawa dan Bali |
Pembaca dapat memeriksa sendiri penelitian ini di sini.