El-Nino Menjadikan 2023 Terpanas Sepanjang Masa
El Niño 2023 berpeluang besar melengserkan El Niño 2016 sebagai tahun terpanas sepanjang sejarah.
Tujuh tahun yang lalu, El Niño yang sangat kuat memanaskan Samudera Pasifik. Indonesia terpanggang kekeringan yang parah sampai memantik kebakaran hutan yang luar biasa. Sebaliknya hujan deras menyebabkan banjir yang menenggelamkan desa dan lahan pertanian di beberapa bagian Tanduk Afrika.
El Niño adalah bagian siklus iklim alami El Niño/Osilasi Selatan. Ciri khasnya adalah kehadiran perairan yang lebih hangat dari biasanya mulai bagian timur dan tengah kawasan tropis di Samudera Pasifik sampai ke Indonesia. Kondisi kebalikannya disebut La Niña, yang ditandai dengan perairan yang lebih dingin dari biasa di bagian yang sama di Samudera Pasifik.
Salah satu patokan untuk mengukur El Niño adalah suhu di bagian tertentu di Samudera Pasifik tropis setidaknya 0,5 derajat Celsius di atas normal. El Niño yang kuat terjadi ketika suhu-suhu tersebut 1,5 derajat C lebih panas dari biasanya.
Samudera Pasifik berkelindan di antara El Niño dan La Niña kurang-lebih dua hingga tujuh tahun sekali. Perubahan suhu permukaan laut selama peristiwa-peristiwa ini mengubah lokasi yang melepas panas ke atmosfer di atasnya. Ujung-ujungnya perubahan itu berdampak pada daur atmosfer dan memicu efek berantai perubahan besar cuaca di seluruh dunia.
Semakin dekat dengan Samudera Pasifik tropis, semakin terasa dampak anomali itu. dan mungkin efeknya terjadi. Pusat Prediksi Iklim NOAA, AS, memprediksi peluang terjadinya El Niño kuat 2023 mencapai 56 persen. Kendati demikian, bentuk perubahan cuaca yang bakal terjadi tidak bisa diprediksi begitu saja.
Perubahan cuaca di masing-masing kawasan tidak mutlak bergantung pada El Niño. Bisa jadi ketika El Niño menguat justru turun hujan dan banjir di kawasan tertentu yang menurut pengalaman El Niño 1998/2016 kekeringan.
Satu-satunya yang sudah bisa dipastikan sebagai dampak El Niño 2023 adalah suhu global makin memanas. El Niño sendiri melepas panas yang lebih besar daripada biasanya ke atmosfer. Panas tersebut akan ditambahkan dari dampak pemanasan global yang disebabkan oleh bahan bakar fosil. Sangat besar kemungkinan 2023 atau 2024 akan menjadi tahun terpanas sepanjang masa. mengalahkan 2016.
El Niño 2016 memiliki kekuatan yang setara 1997-1998, tetapi 2016 lebih panas 0,5 derajat Celsius karena efek pemanasan global. Dengan kondisi konkret suhu rata-rata global samudera sudah memecahkan rekor terpanas jauh sebelum El Niño 2023, maka bisa dipastikan 2023 atau 2024 akan panas gila-gilaan.