Jadwal Perubahan Iklim Permanen Indonesia
Pada Oktober 2013 jurnal Nature menerbitkan simulasi model kenaikan suhu global permanen mulai 2020. Kota Manokwari di Indonesia, menjadi kawasan pertama di dunia yang mengalami perubahan iklim lokal permanen. Ringkasnya, mulai 2020 suhu terdingin di Papua selalu lebih hangat daripada sebelumnya, tidak bisa lebih dingin lagi. Perubahan permanen itu terjadi apabila dunia tidak membuat perubahan drastis untuk mengatasi perubahan iklim.
"Kami memberikan patokan baru tentang kapan perubahan iklim yang sedang berlangsung akan menyebabkan lingkungan seperti yang belum pernah kita lihat sebelumnya," kata peneliti utama Camilo Mora dari Universitas Hawaii, "ketika tahun terdingin di masa depan akan lebih hangat daripada tahun terpanas di masa lalu." Penulis studi menyebut metrik baru ini sebagai "climate departure" (perpindahan permanen iklim) di http://www.nature.com/nature/journal/v502/n7470/full/nature12540.html.
Sebuah kota mencapai climate departure ketika suhu rata-rata tahun terdinginnya sejak saat itu ke depan diproyeksikan akan lebih hangat daripada suhu rata-rata tahun terpanasnya antara 1960 dan 2005. Sebagai contoh, katakanlah titik climate departure untuk Manokwari adalah 2020. Setelah 2020, bahkan tahun terdingin Manokwari akan lebih panas daripada tahun mana pun sebelum 2005. Sejak 2020 suhu di Manokwari akan lebih panas daripada tahun terpanas Manokwari yang pernah dicatat antara 1860 hingga 2005.
| Kota | Suhu Naik Permanen |
|---|---|
| Manokwari | 2020 |
| Jayapura | 2024 |
| Samarinda | 2024 |
| Pontianak | 2024 |
| Makassar | 2024 |
| Ambon | 2026 |
| Kepulauan Riau | 2028 |
| Medan | 2029 |
| Palembang | 2029 |
| Jakarta | 2029 |
| Surabaya | 2029 |
| Denpasar | 2028 |
| Palangkaraya | 2030 |

Dengan menggabungkan data 39 model iklim yang berbeda, Mora dan timnya merakit jadwal perpindahan iklim ini untuk lokasi mana pun di Bumi. Bersama dengan studi mereka, Mora dan koleganya juga mempublikasikan peta interaktif yang memungkinkan pengguna untuk menemukan climate departure di mana saja di dunia.
Menemukan tahun climate departure
Indeks ini menggunakan catatan suhu 1860 hingga 2005 untuk menetapkan batas rentang catatan iklim, kemudian menghitung proyeksi 39 model iklim untuk mengidentifikasi tahun, spesifik untuk setiap titik pada peta global, ketika suhu akan bergeser melewati batas historis tersebut untuk selamanya.
Studi ini sebenarnya membuat dua proyeksi: satu skenario "optimis" yang, menurut kata-kata Mora, "mencerminkan pengurangan drastis emisi karbon dioksida secara terkoordinasi"; dan satu skenario "persetan" di mana emisi meningkat tanpa upaya drastis internasional atau kebijakan domestik di negara kaya. (Tahun yang diberikan pada prediksi itu berpatokan pada skenario "persetan".
Ssecara global tahun perubahan permanen suhu dunia adalah 2047. Jika gas rumah kaca distabilkan pada level yang "optimis" (538 bagian per juta karbon dioksida atmosfer), tahun itu bergeser ke 2069. Kendati demikian penduduk Papua akan mengalami perubahan permanen suhu pada 2025.

Bagaimanapun, kata penulis studi, perpindahan iklim pada suatu titik dalam waktu dekat relatif tidak dapat dihindari. "Kami berharap analisis ini akan menyampaikan pesan yang jelas bahwa perubahan akan datang, dan itu akan terjadi segera," kata co-penulis Abby Frazier.

Lautan sudah kadung berubah
Selain rekaman suhu, para ilmuwan menghasilkan jadwal perpindahan iklim untuk variabel lain, termasuk penguapan permukaan, curah hujan, suhu permukaan laut, dan keasaman permukaan laut. Mora dan timnya menemukan bahwa keasaman laut pada 2008 (plus atau minus tiga tahun) sudah melampaui batas historis. Sebuah studi terpisah, yang dilakukan oleh peneliti di Universitas Oxford, melaporkan laju pengasaman laut adalah yang tercepat dalam 300 juta tahun.
Dampak terkuat di kawasan tropis
"Sebenarnya," kata Mora, "studi kami menunjukkan bahwa kawasan tropis, bukan kutub, yang akan mengalami iklim yang belum pernah terjadi sebelumnya lebih dulu." Mengapa? Mora menjelaskan bahwa wilayah tropis memiliki variabilitas yang relatif sedikit dari tahun ke tahun, sedangkan Arktik dan Antartika tunduk pada rentang ekstrem yang jauh lebih luas.
Mora menyebut ini sebagai semacam efek berganda perubahan iklim. Di kawasan lintang tinggi, perubahan memang absolut tetapi tidak melompat dari kelaziman masa lalu. Sebaliknya, di kawasan tropis, perubahannya tidak absolut tetapi melompat dari kelaziman suhu masa lalu. Pada umumnya perubahan iklim permanen di kawasan tropis 15 tahun lebih awal daripada kawasan lain di dunia--Papua 2020, Jamaika 2023, Guinea Khatulistiwa 2024.
Mora mengatakan bahwa ini sangat mengkhawatirkan karena beberapa alasan.
Pertama, tropis adalah "rumah keragaman spesies terbesar di planet ini," katanya. "Spesies ini beradaptasi dengan iklim yang stabil, dan dengan demikian sangat mudah bagi perubahan kecil ini untuk melebihi apa yang dapat ditoleransi spesies." Studi sebelumnya telah menunjukkan bahwa spesies tropis seperti terumbu-karang sudah mendekati batas kemampuan adaptasi mereka.
Kedua, populasi dunia terkonsentrasi secara tidak proporsional di daerah tropis, kondisi iklim yang belum pernah terjadi sebelumnya akan berdampak pada persentase populasi dunia yang lebih besar.
Penulis pendamping Ryan Longman, juga di Universitas Hawaii, menunjukkan bahwa "negara-negara yang pertama kali terdampak oleh iklim yang belum pernah terjadi sebelumnya adalah negara-negara dengan kapasitas ekonomi paling rendah untuk merespons.
Ironisnya negara-negara itu justru yang paling sedikit melepas emisi karbon dibanding negara-negara kaya yang terpukul belakangan.