Gempabumi 22 Januari 1780 di Jawa Barat dan Sumatra
Gempabumi 22 Januari 1780 sejauh ini adalah yang terkuat sepanjang sejarah rekaman gempabumi di Jawa. Getaran terasa di seluruh pulau Jawa dan sebagian Sumatera. Kawasan Banten bergetar kuat, sedangkan di Cirebon hanya merasakan getaran lemah. Albini dkk memperkirakan gempa hari itu setidaknya sekuat 8,5 MW.
Gempabumi berdampak pada aktivitas G. Salak dan G. Gede. Segera setelah gempabumi, terdengar letusan dari Gunung Salak, sementara G. Gede 'berasap'.
Kapal Willem Frederik, yang sedang berlayar di Selat Sunda menyaksikan gempa laut.
Jakarta, Bogor, Banten dan Cirebon bergetar dengan intensitas masing-masing 8, 7, 6 dan 3 MMI.
Berdasarkan intensitas yang tinggi di Jakarta dan Bogor, peristiwa tersebut kemungkinan besar terjadi di Sesar Baribis dan merupakan peristiwa intraslab.
Gempa intraslab terjadi ketika dua lempeng tektonik bertemu dan salah satunya terbenam ke bawah, biasanya pada kedalaman 70 hingga 300 km di bawah permukaan. Gempa intraslab biasanya lebih kuat dan dangkal dibanding subduksi di zona subduksi atau megathrust.
Sesar Baribis terletak di kawasan utara Pulau Jawa dan dapat disusuri hingga ke Flores Thrust, sebelah utara Flores. Dorongan di kawasan ini diperkirakan sudah aktif sejak sekitar 11,6 juta tahun yang lalu.
Terdapat 3 skenario gempa.
Skenario A, peristiwa dorong sekuat 7,0 MW di bagian barat Sesar Baribis Skenario B, patahan kerak Skenario C, intraslab.
Dalam Skenario A dan B, intensitas maksimum MMI 8 terjadi di Batavia, Bogor dan Banten. Skenario C menghasilkan intensitas tinggi (MMI 8 atau lebih tinggi) di sebagian besar pantai utara.
Meskipun sama-sama memberikan prediksi yang pas untuk Jakarta dan Bogor, Skenario A lebih dipilih sebagai sumber patahan gempa 1780 alih-alih Skenario B.
Gempabumi paling menggemparkan di Indonesia
| Tanggal | Kekuatan (M) | Lokasi |
|---|---|---|
| 5 Januari 1699 | 8.0-9.0 | Jawa dan Sumatra |
| 22 Januari 1780 | 7.0-8.0 | Jawa Barat dan Sumatra |
| 22 November 1815 | 7.3 | Jawa, Bali, dan Lombok |
| 29 Desember 1820 | 8.4 | Jawa, Flores, dan Sulawesi |
| 10 Oktober 1834 | 7.0-7.7 | Jawa Barat, Baribis |
| 4 Januari 1840 | 6.5 | Jawa Tengah dan Timur |
| 17 November 1847 | 7.5-7.6 | Jawa Barat dan Tengah |
| 10 Juni 1867 | 7.7 | Jawa dan Bali |
Pembaca dapat memeriksa sendiri penelitian ini di sini.