Gempabumi 10 Juni 1867 di Jawa dan Bali
Pada tanggal 10 Juni 1867, terjadi gempa bumi besar yang meluas di wilayah Banten hingga Negara di Bali. Guncangan gempa ini dirasakan pada jarak sekitar 900 km dan berlangsung selama lebih dari 2 menit di sebagian besar wilayah. Kerusakan signifikan terjadi di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, terutama di daerah Klaten, Boyolali, Grobogan, Ampel, Sragen, Wonogiri, Kediri, Talungagung, dan Trenggalek.
Gempa tersebut menimbulkan kerusakan yang signifikan, terutama di Yogyakarta. Sekitar 500 orang, termasuk 12 orang Eropa, meninggal di Yogyakarta. Dari 305 rumah batu Eropa dan Tionghoa, 136 telah runtuh atau rusak parah sehingga tidak dapat dihuni, sementara 119 rumah lainnya memerlukan perbaikan.
Selain itu, di Pasar Gede dilaporkan 236 kematian dan 1169 bangunan runtuh. Kraton Yogyakarta dan Surakarta rusak parah, serta hampir semua pabrik gula atau nila sepanjang jalan Surakarta ke Yogyakarta mengalami kerusakan berat atau bahkan roboh.
Kerusakan juga terjadi di sepanjang pantai utara Jawa Tengah dan Jawa Barat. Di Batavia, lebih dari 20 cm cairan dari tangki bensin tumpah, sementara cairan juga tumpah di sebuah pabrik gula di Banjarjawa dan kerusakan ringan terjadi di tempat lain di Kabupaten Tegal. Di Kabupaten Pekalongan, rumah Bupati rusak parah dan rumah-rumah batu di kamp Tionghoa runtuh menewaskan 4 orang.
Gempa ini dirasakan juga oleh kapal-kapal yang sedang berlabuh di Semarang sampai ke Batavia. Gempa susulan terjadi lebih dari seminggu di beberapa tempat di seluruh Jawa.
Penyebaran luas kerusakan dan retakan tanah lebih dari 150 km menunjukkan bahwa gempa tersebut kemungkinan merupakan peristiwa intraslab, dan tidak mungkin merupakan peristiwa megathrust karena tidak ada tsunami yang terdeteksi.
Gempa ini menyebabkan kerusakan parah di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Banyak bangunan, termasuk rumah, pabrik, dan perkebunan, mengalami kerusakan dan bahkan roboh total. Kerugian manusia juga cukup besar, dengan ratusan orang tewas. Gempa ini menjadi peringatan penting tentang pentingnya persiapan dan mitigasi bencana untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan oleh gempa bumi.
Gempabumi paling menggemparkan di Indonesia
| Tanggal | Kekuatan (M) | Lokasi |
|---|---|---|
| 5 Januari 1699 | 8.0-9.0 | Jawa dan Sumatra |
| 22 Januari 1780 | 7.0-8.0 | Jawa Barat dan Sumatra |
| 22 November 1815 | 7.3 | Jawa, Bali, dan Lombok |
| 29 Desember 1820 | 8.4 | Jawa, Flores, dan Sulawesi |
| 10 Oktober 1834 | 7.0-7.7 | Jawa Barat, Baribis |
| 4 Januari 1840 | 6.5 | Jawa Tengah dan Timur |
| 17 November 1847 | 7.5-7.6 | Jawa Barat dan Tengah |
| 10 Juni 1867 | 7.7 | Jawa dan Bali |
Pembaca dapat memeriksa sendiri penelitian ini di sini.